www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 17 Oktober 2026
Home LIFESTYLE Komunitas Bandung Photography Month 2026 Usung Tema Reclaim, Hadirkan Pameran di Ruang Publik
Komunitas

Bandung Photography Month 2026 Usung Tema Reclaim, Hadirkan Pameran di Ruang Publik

Festival fotografi Bandung Photography Month (BPM) 2026.
Social Media

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Festival fotografi Bandung Photography Month (BPM) kembali digelar pada 2026. Memasuki edisi ke-11, festival ini mengusung tema “Reclaim” yang mengajak publik melihat fotografi tidak hanya sebagai karya visual, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan gagasan, merekam sejarah, dan merespons persoalan sosial.

Pembukaan Bandung Photography Month 11 berlangsung di Frame Kang Maman, Jalan Alkateri, Kota Bandung, Jumat (16/10/2026). Festival yang menghadirkan karya fotografi, tulisan, dan pertunjukan seni ini akan berlangsung hingga 16 November 2026.

Mengusung semangat An Afternoon of Art, Music, and Shared Spaces, BPM 11 menjadi ruang pertemuan bagi seniman dan masyarakat melalui pemanfaatan ruang publik. Rangkaian pembukaan turut diisi dengan walking tour menuju Red Raws Center di Pasar Antik Cikapundung, lantai 3, Blok FC 01, serta pemutaran musik pilihan dalam format vinyl oleh Tanto Sutrisno dan pertunjukan seni oleh Gatot Gunawan.

Perwakilan Bandung Photography Month, Baskara Puraga, mengatakan festival ini telah diselenggarakan sejak 2013. Meski sempat terhenti pada masa pandemi, BPM kembali digelar secara rutin dengan konsep dan tema yang berbeda pada setiap edisi.

Tema-tema tersebut dirumuskan berdasarkan fenomena sosial dan berbagai persoalan yang dinilai relevan untuk direspons melalui fotografi.

“Bandung Photography Month adalah sebuah festival foto khusus untuk fotografi yang saat ini selalu kami adakan di ruang publik, jadi kita tidak di galeri,” ujar Baskara.

Menurutnya, penggunaan ruang publik menjadi salah satu karakteristik BPM. Lokasi penyelenggaraan yang berpindah-pindah memberikan pengalaman berbeda sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk menikmati karya fotografi di luar ruang pamer konvensional.

Pada edisi ke-11, tema “Reclaim” menjadi landasan untuk menghadirkan karya yang tidak hanya mengutamakan aspek visual, tetapi juga menonjolkan narasi dan gagasan di baliknya.

BPM 11 melibatkan 28 seniman atau fotografer dan 13 penulis. Keterlibatan penulis menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem fotografi, yang tidak hanya bergantung pada penciptaan karya visual, tetapi juga membutuhkan kritik, tulisan, kurasi, dan diskusi untuk mengembangkan wacana fotografi.

Museum Gagasan Fotografi Indonesia

Salah satu program yang dihadirkan dalam BPM 11 adalah Museum Gagasan Fotografi Indonesia. Program ini dirancang sebagai ruang untuk mengarsipkan, menampilkan, dan menuliskan berbagai pemikiran mengenai fotografi.

Baskara menjelaskan, museum tersebut berangkat dari keinginan membangun ruang dokumentasi yang dapat menampung gagasan-gagasan fotografi, termasuk pemikiran kritis yang dapat diakses masyarakat.

“Keinginannya itu membuat museum dari hal kecil dulu, tapi khusus untuk mengarsipkan, menampilkan, dan menuliskan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan fotografi,” jelasnya.

Dalam proses kurasi BPM 11, narasi menjadi salah satu pertimbangan utama untuk menentukan karya yang sesuai dengan tema “Reclaim”. Dari sekitar 45 peserta yang mengikuti sesi open call, sembilan peserta terpilih untuk menampilkan karyanya.

Pendekatan serupa diterapkan pada karya tulis yang mengangkat kritik fotografi, persoalan arsip, serta berbagai isu dalam praktik fotografi.

Bagi Baskara, “Reclaim” tidak sebatas tema pameran, tetapi juga berkaitan dengan upaya merebut kembali ruang, gagasan, dan ekosistem fotografi yang lebih ideal.

Ia berharap penyelenggaraan BPM dapat menginspirasi komunitas di kota lain untuk mengadakan festival serupa tanpa harus bergantung pada skala besar atau konsep yang mewah.

“Harapannya mudah-mudahan bisa men-trigger teman-teman di kota-kota lain juga untuk membuat festival,” tuturnya.

Dorong Ruang Pamer Alternatif di Bandung

Pentingnya ruang pamer alternatif juga disoroti Ncis, salah satu fotografer yang karyanya ditampilkan dalam BPM 11. Ia menghadirkan karya mengenai Hari Rusli, sosok yang dikenalnya sejak duduk di bangku SMP.

Melalui foto-foto tersebut, Ncis berusaha menggambarkan sosok Hari Rusli sebagai pribadi yang unik dan jahil, tetapi juga memiliki sisi lembut.

Menurut Ncis, daya tarik BPM terletak pada keberaniannya menghadirkan pameran di lokasi yang tidak biasa. Pendekatan tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menikmati fotografi tanpa harus mendatangi galeri formal.

“Bandung Photography Month dari tahun ke tahun selalu unik, di luar nalar pameran yang biasa,” ungkap Ncis.

Ia menilai Bandung masih membutuhkan lebih banyak ruang terbuka untuk menampilkan karya visual. Kehadiran ruang pamer alternatif dinilai dapat memperluas kesempatan bagi fotografer dan penyelenggara kegiatan seni untuk menjangkau masyarakat.

Harapan serupa disampaikan Gatot Gunawan, seniman performing arts yang tampil dalam pembukaan BPM 11. Ia menerjemahkan tema “Reclaim” melalui gerak tari yang terinspirasi dari sejumlah foto dalam pameran.

Beberapa karya yang menjadi sumber inspirasinya berkaitan dengan seni tari keraton Yogyakarta, Patrice Lumumba, Palestina, hingga Peristiwa Bandung Lautan Api.

Gatot memandang karya-karya tersebut sebagai representasi pengorbanan, penderitaan, dan perjuangan yang dapat disampaikan melalui fotografi maupun seni pertunjukan.

Melalui gerak tari, ia berupaya menghubungkan dokumentasi visual dengan cerita sejarah dan pengalaman manusia agar dapat dipahami oleh generasi muda.

“Pada intinya, yang saya tangkap dari keseluruhan ini, foto-foto ini ngomongin tentang pengorbanan sama penderitaan,” jelas Gatot.

Ia berharap pameran fotografi tidak selalu identik dengan ruang eksklusif atau galeri formal. Jalanan dan berbagai ruang publik lainnya, menurutnya, dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan karya seni sekaligus menciptakan pengalaman yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Para fotografer ini bisa melebarkan sayapnya, bikin ruang-ruang pameran yang out of the box. Kita nggak mesti bikin di satu ruangan yang eksklusif,” kata Gatot.

Melalui BPM 11, pemanfaatan ruang publik dan pertemuan antara fotografi, tulisan, serta seni pertunjukan diharapkan dapat memperluas cara masyarakat menikmati karya visual sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya ekosistem fotografi yang lebih inklusif.

 

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Komunitas

Pedal Puff Girls, Komunitas Sepeda Perempuan Bandung yang Tumbuh dari Empat Teman Gowes

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Berawal dari kebiasaan empat perempuan bersepeda bersama mengelilingi Kota...

Komunitas

Mal Ciputra Jakarta Gelar Barongsai International Competition 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Sebanyak 10 tim barongsai dari lima negara bertemu di...

EKONOMIKomunitasLIFESTYLE

15.000 Peserta Ramaikan Pocari Run 2026 Bandung, Pemkot Siapkan Rekayasa Lalu Lintas 19-20 September

BANDUNG, Bisnistoday - Pocari Run 2026 akan digelar selama dua hari di...

Komunitas

SyukuRun 2026 Meriahkan Dies Natalis ke-25 Widyatama, Perkuat Kolaborasi Kampus dan Masyarakat

BANDUNG, Bisnistoday – Universitas Widyatama memeriahkan Dies Natalis ke-25 melalui kegiatan fun...