BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Keterbatasan jaringan internet tak menyurutkan perjuangan tiga guru asal Maluku, Charlota Janeta Lahatu, Rachel Yetti Tahapary, dan Hetna Sapulete, untuk meraih gelar sarjana di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Demi mengikuti kuliah daring, mereka harus berburu sinyal hingga ke kampung tetangga, membagi waktu antara pendidikan dan tanggung jawab keluarga, serta menyisihkan uang untuk perjalanan ke Bandung.
Ketiganya berhasil menyelesaikan pendidikan melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI.
Selama mengikuti perkuliahan jarak jauh, Charlota, Rachel, dan Hetna mengandalkan telepon pintar untuk mengikuti pembelajaran melalui aplikasi Zoom. Koneksi internet yang tidak stabil kerap menghambat perkuliahan, komunikasi dengan dosen dan sesama mahasiswa, hingga pengumpulan tugas.
Rachel Yetti Tahapary mengisahkan, dirinya harus pergi ke kampung tetangga demi mendapatkan sambungan internet yang memadai.
“Saya mesti lari ke kampung sebelah untuk mencari sinyal,” ungkap Rachel.
Bahkan ketika hujan turun, Rachel tetap berusaha mencari jaringan agar bisa mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas akademik. Di tengah keterbatasan tersebut, ia bersama kedua rekannya juga harus membagi waktu untuk mengurus keluarga.
Dukungan suami dan anak-anak serta bantuan melalui program pemerintah menjadi bagian penting yang membantu mereka menuntaskan pendidikan sarjana.
Setelah menyelesaikan studi, ketiganya berupaya menghadiri wisuda secara langsung di kampus UPI, Bandung. Mereka menyisihkan uang untuk membiayai perjalanan dari Maluku ke Jawa Barat dengan transportasi laut. Kesempatan bertemu langsung dengan dosen dan rekan mahasiswa yang selama ini hanya berinteraksi melalui pembelajaran daring membuat prosesi wisuda memiliki arti tersendiri.
18 Mahasiswa Maluku Terkendala Hadiri Wisuda UPI
Di sisi lain, tidak semua mahasiswa asal Maluku dapat menghadiri seremoni kelulusan pada Oktober 2026. Berdasarkan data PGPAUD FIP UPI, sebanyak 18 dari total 33 mahasiswa asal Maluku tidak dapat menghadiri Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026. Kendala yang dihadapi meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, jarak tempat tinggal ke bandara, hingga keterbatasan biaya perjalanan.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu UPI, Prof. Dr. Vanessa Gaffar, S.E., Ak., MBA., menyampaikan keprihatinannya terhadap para lulusan yang tidak dapat menghadiri wisuda karena keadaan di luar kendali mereka.
“Kami turut prihatin kepada para wisudawan yang tidak bisa hadir ke sini bukan karena tidak ingin, tetapi karena force majeure,” ujar Vanessa saat pelaksanaan Wisuda Gelombang IV UPI Tahun 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Bandung, Jumat (16/10/2026).
Vanessa menjelaskan, ketidakhadiran dalam prosesi wisuda tidak menghapus status kelulusan maupun hak mahasiswa untuk memperoleh dokumen akademik. Lulusan yang memenuhi persyaratan administrasi tetap dapat mengakses ijazah elektronik, sertifikat, dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) melalui sistem UPI.
“Ini sebetulnya hanya proses selebrasinya saja mungkin yang tidak bisa hadir. Tapi tidak berarti tidak mendapatkan ijazah,” katanya.
UPI juga menyediakan kesempatan bagi lulusan yang belum dapat menghadiri wisuda Oktober untuk mengikuti prosesi pada gelombang berikutnya yang dijadwalkan pada Desember 2026. Para lulusan diminta menyampaikan keinginan tersebut kepada program studi masing-masing agar dapat didata dan dilaporkan kepada Direktorat Pendidikan UPI.
Akses Pendidikan bagi Guru di Wilayah Kepulauan

Pengalaman tiga guru asal Maluku tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran jarak jauh dapat membuka kesempatan bagi pendidik di wilayah yang jauh dari pusat pendidikan untuk meningkatkan kualifikasi akademik. Namun, keterbatasan jaringan internet, jarak geografis, dan biaya masih menjadi tantangan dalam mengakses pendidikan tinggi.
Ke depan, perluasan akses pendidikan bagi guru di wilayah kepulauan perlu diiringi dukungan infrastruktur digital, pendampingan akademik, serta layanan administrasi yang mudah dijangkau. Ketersediaan dokumen akademik elektronik dan kesempatan mengikuti wisuda pada gelombang berikutnya juga menjadi alternatif bagi lulusan yang terkendala perjalanan.
Charlota, Rachel, dan Hetna berpesan agar para guru yang belum menyelesaikan pendidikan sarjana tidak mudah menyerah meskipun menghadapi kendala biaya maupun jarak. Bagi mereka, ketekunan, doa, dan dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam menyelesaikan perjalanan akademik.
Kisah mereka menjadi gambaran perjuangan pendidik di wilayah kepulauan dalam memperoleh pendidikan tinggi, sekaligus pengingat bahwa pemerataan akses pendidikan tidak hanya bergantung pada tersedianya pembelajaran daring, tetapi juga pada dukungan yang sesuai dengan kondisi nyata para guru di berbagai daerah.


















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)




















