JAKARTA, Bisnistoday – Dräger Indonesia menilai bahwa tingkat kecelakaan di Indonesia masih relatif tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan RI, sebanyak 462.241 kasus kecelakaan kerja tercatat sepanjang Januari hingga Desember 2024.
“Perlindungan yang efektif tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada ketersediaan perangkat andal di situasi darurat. Kami terus memperkuat peran sebagai mitra industri dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan, “ ungkap Managing Director Dräger Indonesia, Ratna Kurniawati, di Jakarta, Selasa (15/7).
„Melalui peluncuran X-am 2600 dan PSS 3000E, perangkat dengan standar kualitas Jerman – Dräger menegaskan komitmennya dalam meningkatkan keselamatan kerja di Indonesia, khususnya bagi para pekerja di lingkungan berisiko tinggi.“
Sejalan dengan misi untuk melindungi para pekerja di Area Berisiko Tinggi, Dräger Indonesia meluncurkan dua solusi inovatif: Detektor multigas X-am 2600 dan SCBA PSS 3000E (Self-Contained Breathing Apparatus) yang dirancang untuk melindungi pekerja dari paparan gas beracun dan kekurangan oksigen.
Peluncuran ini dilakukan dalam workshop bertajuk “Managing Risks: Confined Space Entry & Health and Safety at the Workplace” yang digelar di kantor pusat Dräger Indonesia, Jakarta. Acara ini turut mengedukasi peserta dari berbagai sektor industri tentang risiko kerja di ruang terbatas dan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap K3.
Peralatan Keselamatan Kerja
Head of Safety Dräger Indonesia, Siva Salitoray, menjelaskan dikembangkan dari dua produk andalan Dräger – X-am 2800 dan PSS 3000 — X-am 2600 dan PSS 3000E hadir untuk melengkapi portofolio detektor multi-gas portabel dan SCBA dengan pilihan yang lebih kompetitif.
„Peluncuran ini merupakan langkah nyata dalam menghadirkan teknologi berkualitas tinggi khas Dräger ,Technology For Life, yang telah dipercaya sejak 1889, guna menjangkau lebih banyak sektor sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi industri dalam menerapkan standar keselamatan yang lebih tinggi.“
Selain perangkat, edukasi dan kesiapsiagaan personel juga tak kalah penting. Menurut praktisi dan trainer Environment, Health & Safety (EHS), Emanuel Eko Haryanto banyak kecelakaan kerja khususnya di ruang terbatas yang terjadi akibat kombinasi antara SOP yang tidak dijalankan secara konsisten dan kurangnya peralatan pendukung yang tepat.
“Selain SOP, penting adanya peralatan memadai seperti alat deteksi gas. Banyak gas berbahaya yang tidak diinginkan bisa muncul di area kerja ruang terbatas, seperti H₂S, yang berisiko memicu kebakaran, ledakan, atau keracunan,” ungkap Emanuel Eko Haryanto./



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)





















