JAKARTA, Bisnistoday — Film terbaru garapan penulis dan sutradara Wregas Bhanuteja, Para Perasuk, tidak hanya mengeksplorasi unsur mistis, tetapi juga mengangkat isu hak ulayat dan perlawanan masyarakat adat terhadap ancaman eksploitasi lingkungan.
Wregas mengatakan, gagasan utama film ini berakar dari pengalaman personal keluarganya di Bantul, Yogyakarta, terkait sengketa sumber mata air yang semula dibersihkan dan dimanfaatkan warga, diketahui memiliki kepemilikan individu dan hendak diakuisisi oleh perusahaan air minum.
Menurutnya, rencana akuisisi itu memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak ekologis, terutama kemungkinan mengeringnya lahan pertanian di sekitar. Sebagai respons, warga bersama keluarganya menggalang dana secara kolektif untuk mempertahankan sumber air tersebut agar tidak dijual.
“Akhirnya, warga berusaha bersama Om saya juga, mengumpulkan dana supaya pemilik mata air ini nggak menjual ke perusahaan tersebut. Jadi, patungan. Mereka bikin program, acara-acara syukuran di situ,” ujarnya dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).
Berita Terkait: Joko Anwar Siap Hadapi Pro-Kontra, Film Terbarunya Sarat Kritik Sosial
Fenomena serupa tidak hanya terjadi di satu lokasi. Ia menambahkan, di berbagai daerah sumber daya alam kerap menjadi target industri, memicu respons masyarakat yang berupaya melindungi lingkungan melalui berbagai cara, termasuk membangun narasi spiritual atau mitos lokal.
“Di berbagai tempat itu, ada banyak yang berpotensi untuk menjadi tambang, pabrik, dan biasanya sekitarnya juga jadi kering. Nah, banyak warga yang kemudian membuat suatu mitos tertentu. Misalnya kalau di mata air itu ada peri, jadi nggak boleh diganggu,” terangnya.
“Di hutan itu ada yang menunggu, jadi harus kita jaga. Itu sebetulnya sebagai salah satu usaha untuk menyelamatkan alam. Jadi, kalau kita melihat lebih jauh, spiritualitas di sini berkoneksi dengan alam,” lanjutnya.
Film Para Perasuk berlatar di Desa Latas, desa kecil di pinggiran kota, dikenal dengan tradisi pesta kerasukan yang telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial sekaligus hiburan masyarakat setempat.
Tradisi tersebut menempatkan para “Perasuk” sebagai figur sentral yang dipercaya menjadi perantara antara manusia dan roh, dalam praktik yang menggabungkan unsur spiritual dan budaya lokal.
Konflik cerita muncul ketika mata air keramat, tempat para Perasuk mencari roh mulai terancam digusur. Situasi tersebut membuat pria bernama Bayu (20) berambisi menjadi Perasuk utama. Ia berupaya memimpin sebuah pesta berskala besar dengan tujuan mengumpulkan dana guna menebus kembali mata air tersebut.
Aktor Angga Yunanda yang memerankan tokoh Bayu mengaku tertantang saat pertama kali membaca naskah. Angga menyebut pendekatan cerita yang tidak biasa menuntut eksplorasi fisik dan emosional yang intens.
“Pertama kali baca skenario-nya langsung punya pertanyaan. Gimana acting-nya? Gimana cara gue bisa deliver apa yang ada di otaknya Kak Wregas? Karena baru baca scene satu, ditampar sosis. Gue kayak, ditampar sosis? Terus tiba-tiba, dituang galon,” tuturnya.
“Tapi, ternyata filmnya sangat dalam banget. Menyentuh hati aku, terus ada perasaan yang sebenarnya cukup remuk karena aku ngelihat Bayu, terus jadi ikut merasakan bagaimana dia berusaha keras untuk bisa menggapai mimpi dan impiannya,” tambahnya.
Baginya, karakter Bayu menggambarkan pergulatan anak muda dalam mengejar mimpi di tengah tekanan realitas. Ia menilai perjalanan karakter tersebut berkembang dari ambisi menjadi obsesi yang berdampak luas, termasuk terhadap diri sendiri dan orang lain.
“Mungkin saking keras dia berusaha, awalnya itu ambisi. Sampai akhirnya menjadi obsesi yang gak bisa dihentikan. Jadi, aku ngerasa sangat sedih melihat dinamika yang ditulis sama Kak Regas tentang Bayu ini,” katanya.
Guna mendalami peran, ia menjalani pelatihan intensif selama dua bulan, termasuk eksplorasi gerak tubuh dan latihan memainkan alat musik tradisional. Proses tersebut, katanya, turut melibatkan pendekatan meditasi dan pembauran dengan lingkungan lokasi syuting yang terpencil.
“Selama dua bulan ini banyak yang kita lakuin, mulai dari workshop, reading, one-on-one bergerak sama Kak Regas, salah satunya melintah. Jadi, belajar melintah sampai perutnya keram,” ungkapnya.
“Terus, belajar slompret itu juga salah satu yang sangat berat. Karena, aku baca di skenario aja, bayu main slompret sambil terbalik. Gua kayak, oke, gua harus siapin tenaga gua untuk bisa bisa stabil memainkan slompret sambil kebalik berjam-jam,” tambahnya.
Film Para Perasuk dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Selain Angga Yunanda, film ini turut dibintangi oleh Anggun C. Sasmi, Maudy Ayunda, Chicco Kurniawan, dan banyak pemeran berbakat lainnya. (E2-NOVITA LESTARI)









































