JAKARTA, Bisnistoday – Secara nasional, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli, sekaligus sebagai refleksi terhadap kehidupan anak-anak. Kali ini, Kesatuan Pelajar, Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) menyoroti kehidupan anak-anak di wilayah pesisir. Barangkali cukup sering anak-anak pesisir hendak pergi ke sekolah harus menerjang banjir rob yang semakin sering datang dan makin tinggi.
“Aktivitas pendidikan bagi anak-anak terdampak, mengutip data UNICEF ada 40 juta anak mengalami gangguan pendidikan setiap tahun karena bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim, dan jumlah ini terus meningkat,” ungkap Ketua Umum Kesatuan Pelajar, Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Hendra Wiguna di Jakarta, Rabu (23/7).
Hendra mencontohkan anak-anak di Belawan Kota Medan yang harus melepas sepatu bahkan seragam sekolahnya untuk menerjang banjir rob dengan ketinggian mencapai 1 meter. Begitu pula di beberapa daerah, tidak sedikit yang pada akhirnya harus meliburkan kegiatan sekolah karena bangunan sekolah terendam banjir rob.
“Tidak hanya banjir rob, Perubahan Iklim juga mengakibatkan gelombang panas, bahkan data UNICEF menunjukan ada 3,5 juta anak di Indonesia terdampak kekurangan air. Tidak berhenti disitu, mayoritas anak terpapar polusi udara,” tutur Hendra
Berdampak Terhadap Nelayan
Hendra menguraikan, selain dampak langsung yang dirasakan oleh anak, perubahan iklim juga berdampak terhadap penurunan penghasilan nelayan. Alhasil, meskipun sekolah negeri untuk jenjang SD-SMA gratis, namun keluarga nelayan keberatan untuk mengakses pendidikan karena tidak mampu membiayai kebutuhan harian anak bersekolah. Mulai dari ongkos hingga perlengkapan sekolah lainnya.
“Bahkan tidak sedikit anak-anak di pesisir yang menjadi yatim, karena bapaknya mengalami kecelakaan di laut. Seiring dengan meningkatnya risiko bekerja di laut akibat perubahan iklim. Bahkan hal ini sebenarnya juga mengancam anak-anak yang berada di pulau-pulau kecil dimana mereka harus menyeberangi laut untuk pergi ke sekolah.”
Terkait hal tersebut, Hendra berharap adanya langkah-langkah kongkrit dari pemerintah dan semua kalangan. Pertama, dukungan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim bagi anak-anak dan masyarakat pesisir sebagai kelompok paling rentan.
“Kedua, hadirkan sekolah yang layak dan mudah diakses bagi anak-anak pesisir. Sehingga beban biaya harian tidak begitu berat dipikul oleh keluarga nelayan. Ketiga, afirmasi pendidikan bagi anak-anak nelayan dan pelaku usaha perikanan lainnya.” tegas Hendra.//



















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)




















