www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Hari Anak Nasional : Refleksi Kerentanan Anak-Anak Pesisir Terhadap Perubahan Iklim
Humaniora

Hari Anak Nasional : Refleksi Kerentanan Anak-Anak Pesisir Terhadap Perubahan Iklim

Anak Desa
ANAK di Desa Bermain./istimewa/
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Secara nasional, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli, sekaligus sebagai refleksi terhadap kehidupan anak-anak. Kali ini, Kesatuan Pelajar, Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) menyoroti kehidupan anak-anak di wilayah pesisir. Barangkali cukup sering anak-anak pesisir hendak pergi ke sekolah harus menerjang banjir rob yang semakin sering datang dan makin tinggi.

“Aktivitas pendidikan bagi anak-anak terdampak, mengutip data UNICEF ada 40 juta anak mengalami gangguan pendidikan setiap tahun karena bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim, dan jumlah ini terus meningkat,” ungkap Ketua Umum Kesatuan Pelajar, Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI), Hendra Wiguna di Jakarta, Rabu (23/7).

Hendra mencontohkan anak-anak di Belawan Kota Medan yang harus melepas sepatu bahkan seragam sekolahnya untuk menerjang banjir rob dengan ketinggian mencapai 1 meter. Begitu pula di beberapa daerah, tidak sedikit yang pada akhirnya harus meliburkan kegiatan sekolah karena bangunan sekolah terendam banjir rob.

“Tidak hanya banjir rob, Perubahan Iklim juga mengakibatkan gelombang panas, bahkan data UNICEF menunjukan ada 3,5 juta anak di Indonesia terdampak kekurangan air. Tidak berhenti disitu, mayoritas anak terpapar polusi udara,” tutur Hendra

Berdampak Terhadap Nelayan

Hendra menguraikan, selain dampak langsung yang dirasakan oleh anak, perubahan iklim juga berdampak terhadap penurunan penghasilan nelayan. Alhasil, meskipun sekolah negeri untuk jenjang SD-SMA gratis, namun keluarga nelayan keberatan untuk mengakses pendidikan karena tidak mampu membiayai kebutuhan harian anak bersekolah. Mulai dari ongkos hingga perlengkapan sekolah lainnya.

“Bahkan tidak sedikit anak-anak di pesisir yang menjadi yatim, karena bapaknya mengalami kecelakaan di laut. Seiring dengan meningkatnya risiko bekerja di laut akibat perubahan iklim. Bahkan hal ini sebenarnya juga mengancam anak-anak yang berada di pulau-pulau kecil dimana mereka harus menyeberangi laut untuk pergi ke sekolah.”

Terkait hal tersebut, Hendra berharap adanya langkah-langkah kongkrit dari pemerintah dan semua kalangan. Pertama, dukungan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim bagi anak-anak dan masyarakat pesisir sebagai kelompok paling rentan.

“Kedua, hadirkan sekolah yang layak dan mudah diakses bagi anak-anak pesisir. Sehingga beban biaya harian tidak begitu berat dipikul oleh keluarga nelayan. Ketiga, afirmasi pendidikan bagi anak-anak nelayan dan pelaku usaha perikanan lainnya.” tegas Hendra.//

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Lawang Sewu
Humaniora

Mengenal Warisan Perkeretaapian Melalui Petilasan Lawang Sewu dan Museum Ambarawa

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Melalui Rail Heritage Forum 2026 di Lawang Sewu, KAI...

Tes TKA
Humaniora

Gelombang Pertama TKA SMA/SMK 2026 Tuntas, Diikuti Lebih dari 1,6 Juta Murid

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menuntaskan pelaksanaan...

Mendikdasmen
Humaniora

Puncak Bulan Bahasa 2026, Kemendikdasmen Luncurkan 16 Produk Bahasa-Sastra dan 2 Program Wiyata Kinarya

JAKARTA, Bisnistoday.co.id— Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan...

Wamendikdasmen
Humaniora

Momentum Sumpah Pemuda, Wamendikdasmen Fajar Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Dini

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Pendidikan karakter perlu dibangun sejak dini melalui keterlibatan keluarga,...