JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (16/3) kembali ditutup melemah tipis 14,56 poin atau 0,23 persen ke posisi 6.309,7. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,02 poin ke posisi 943,11.
Menurut Analis Bina Artha Sekuritas, Nafan Aji melemahnya barometer peragangan efek di BEI tersebut lebih dipengaruhi hasil neraca perdagangan Indonesia per Februari yang lebih rendah dari ekspektasi yakni 2,01 miliar dolar AS.
“Di sisi lain, minimnya data makroekonomi domestik yang memberikan dampak positif turut mempengaruhi pelemahan IHSG,” kata dia di Jakarta, Selasa (16/3).
Pelaku pasar juga tengah menanti hasil keputusan penetapan tingkat suku bunga acuan, baik dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed) maupun dari Bank Indonesia (BI).
“Adanya pengumuman US retail sales maupun US core retail sales yang diprediksikan melemah merupakan sentimen negatif tambahan bagi indeks. Selain itu, ada kekhawatiran terkait dengan perkembangan mutasi Virus Corona,” ujar Nafan.
Dibuka menguat, IHSG cukup fluktuatif pada sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, IHSG lebih banyak menghabiskan waktu di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor meningkat dengan sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 1,68 persen, diikuti sektor barang konsumen nonprimer dan sektor transportasi dan logistik masing-masing 0,72 persen dan 0,69 persen.
Sedangkan empat sektor terkoreksi dengan sektor barang baku turun paling dalam yaitu minus 1,68 persen, diikuti sektor energi dan sektor keuangan masing-masing minus 0,72 persen dan minus 0,69 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp257,22 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.253.456 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,82 miliar lembar saham senilai Rp11,16 triliun. Sebanyak 191 saham naik, 293 saham menurun, dan 154 saham tidak bergerak nilainya.
Sementara itu bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 154,12 poin atau 0,52 persen ke 29.921,09, Indeks Hang Seng naik 193,93 poin atau 0,67 persen ke 29.027,69, dan Indeks Straits Times meningkat 3,45 atau 0,11 persen poin ke 3.102,29.
Rupiah Melemah
Pelemahan juga terjadi pada nilai tukar (kurs) rupiah. Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank terkoreksi, tertekan imbal hasil surat utang atau obligasi Amerika Serikat (AS).
Rupiah ditutup melemah tujuh poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.410 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.403.
“Memang publikasi trade balance masih belum bisa meredam volatilitas pasar. Tekanan masih tinggi, terkait sangat erat dengan pergerakan yield US treasury 10 year,” kata Analis Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) sebesar 2,01 miliar dolar AS pada Februari 2021. Nilai ekspor tumbuh 8,56 persen (yoy), sementara nilai impor tumbuh 11,86 persen (yoy) pada Februari 2021.
Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun sendiri saat ini masih tercatat di level yang cukup tinggi di kisaran 1,6 persen.
Rully menuturkan pelaku pasar juga tengah menanti hasil rapat bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), setelah Presiden AS Joe Biden mengesahkan paket stimulus senilai 1,9 triliun dolar AS. “Pasar menunggu sinyal dari The Fed besok,” ujarnya./









































