JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah menegaskan industri otomotif nasional belum kehabisan bensin. Justru sebaliknya, Indonesia tengah bersiap menekan pedal gas lebih dalam. Momentum itu ditegaskan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui penyelenggaraan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, yang diproyeksikan menjadi katalis pemulihan sekaligus transformasi industri otomotif nasional ke arah yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai sektor manufaktur, termasuk otomotif, tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional di tengah tekanan global. “Sektor industri manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja yang positif sebagai penggerak utama perekonomian nasional,” ujar Agus di Jakarta, kemarin.
Data Kemenperin menunjukkan sepanjang Triwulan I–III 2025, Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh 5,17 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,01 persen. Nilai tambah yang dihasilkan mencapai Rp3.051,58 triliun atau 17,27 persen terhadap PDB nasional, dengan ekspor menembus USD227,10 miliar, setara lebih dari 80 persen total ekspor Indonesia.
Tak hanya itu, sektor IPNM juga menjadi magnet investasi dengan realisasi Rp552 triliun atau 38,49 persen dari total investasi nasional, sekaligus menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
Otomotif Masih Jadi Andalan
Di balik kinerja tersebut, industri otomotif tetap memainkan peran sentral. Saat ini, Indonesia ditopang oleh 41 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas produksi 2,59 juta unit per tahun, serta 82 pabrikan roda dua dan tigadengan kapasitas 11,2 juta unit per tahun. Total investasi sektor otomotif telah mencapai Rp194,22 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja langsung hampir 100 ribu orang.
Secara regional, Indonesia masih mempertahankan posisi sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN dengan penjualan 865.723 unit pada 2024. Namun, tingkat kepemilikan kendaraan nasional masih relatif rendah, 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Fakta ini sekaligus mengindikasikan potensi pasar domestik yang masih sangat besar.
Pasar Domestik Tertekan, Ekspor Tetap Ngebut
Memasuki 2026, industri otomotif mulai menunjukkan sinyal stabilisasi. Kinerja ekspor yang solid, percepatan kendaraan elektrifikasi, serta penguatan permintaan di akhir 2025 menjadi penopang utama.
Pemerintah memproyeksikan penjualan mobil nasional sekitar 850 ribu unit pada 2026, tumbuh 5,4 persendibandingkan realisasi 2025. Meski demikian, pemulihan pasar domestik berjalan bertahap, seiring tantangan daya beli, pembiayaan, dan ketidakpastian rantai pasok global.
Sepanjang 2025, penjualan wholesale tercatat 803.687 unit atau turun 7,2 persen, sementara penjualan ritel melemah 6,3 persen menjadi 833.712 unit. Kontras dengan pasar domestik, ekspor kendaraan utuh justru tumbuh 9,7 persenmenjadi 518.212 unit, menegaskan daya saing Indonesia sebagai basis produksi otomotif global masih terjaga.
LCGC Lesu, Kendaraan Listrik Melaju Kencang
Tekanan paling terasa terjadi pada segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang penjualannya anjlok lebih dari 30 persen sepanjang 2025. Pemerintah merespons dengan menyiapkan skema insentif fiskal agar segmen ini kembali bergairah.
Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi justru mencatat lonjakan signifikan. Penjualan mobil listrik berbasis bateraimelonjak dari 43.194 unit (2024) menjadi 103.931 unit (2025). Kendaraan hybrid tumbuh 15 persen, sementara plug-in hybrid melonjak drastis dari puluhan unit menjadi lebih dari 5.000 unit.
Secara keseluruhan, penjualan kendaraan elektrifikasi pada 2025 mencapai 175.144 unit, setara 21,8 persen dari total penjualan nasional, sebuah lompatan besar dalam waktu singkat.
Ekosistem EV Diperkuat dari Hulu ke Hilir
Pemerintah pun tancap gas membangun ekosistem kendaraan listrik. Mulai dari pengoperasian pabrik sel baterai berkapasitas 10 GWh, fasilitas produksi battery pack, hingga proyek terintegrasi baterai kendaraan listrik senilai USD5,9 miliar. Proyek ini diproyeksikan memberi nilai tambah ekonomi hingga USD48 miliar bagi Indonesia.
Langkah tersebut diperkuat melalui Program Low Carbon Emission Vehicle, yang telah melibatkan 15 perusahaandengan tambahan investasi lebih dari Rp22 triliun.
“Kami berharap IIMS 2026 menjadi katalis penting untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat fondasi pertumbuhan industri otomotif nasional, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen dan investasi,” pungkas Agus.
IIMS 2026 pun tak sekadar pameran kendaraan. Ia diposisikan sebagai etalase masa depan industri otomotif Indonesia, di mana pemulihan ekonomi, transisi hijau, dan ambisi menjadi pemain global bertemu dalam satu arena.//



