JAKARTA, Bisnistoday- Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, nama Rusli Marzuki Saria adalah sebuah monumen hidup. Dunia mengenalnya melalui larik-larik puisi yang tajam dalam Sembilu atau Satu Demi Satu, Baris Demi Baris, serta melalui pengakuan internasional berupa S.E.A. Write Award (Penghargaan Penulis Asia Tenggara).
Namun, buku “PAPA PAREWA ITU PAMAN KAMI” menawarkan sesuatu yang jauh lebih intim: sebuah tambo (kebenaran batin atau riwayat asal-usul yang hidup) yang dicatat langsung oleh *seorang keponakan* yang juga seorang begawan literasi.
Penulisnya, E. T. Hadi Saputra, bukanlah nama baru dalam dunia persuratan. Sebagai Redaktur Pelaksana (Hoofdredacteur) Majalah Forum Keadilan dan penulis yang telah melahirkan puluhan buku referensi serta novel selama 40 tahun terakhir, Saputra membawa ketajaman analisis hukum dan jurnalisme ke dalam narasi biografi yang puitis ini.
Sembilan Dasawarsa, Sembilan Fragmen Kehidupan
Buku ini membedah perjalanan sembilan dasawarsa Sang Maestro yang dibagi secara apik ke dalam sembilan bagian. Narasi bergerak secara impresif dari fajar tahun 1936 di Pakan Sinayan, Nagari Kamang Mudiak, hingga masa puncaknya di Wisma Warta. Penulis membawa kita mengenali akar silsilah keluarga besar Marzuki Dt. Rajo Pangulu, seorang Angku Palo (Kepala Nagari) yang berpengaruh pada masa Afdeeling (Keresidenan) Agam.
Momen paling krusial yang dipotret adalah tahun 1953, ketika Paman Rusli harus mengubur impiannya belajar seni di ASRI Yogyakarta akibat wafatnya sang ayah yang meruntuhkan pilar ekonomi keluarga. Keputusan pragmatis menjadi anggota Mobrig (Mobiele Brigade — Brigade Mobil) menjadi titik awal dualitas unik dalam dirinya: memegang bedil sebagai aparat, namun menyimpan pena di saku sebagai penyair.
Filosofi Parewa dan Keadilan Batin
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilan penulis dalam mendefinisikan ulang istilah “Parewa”. Di tangan Saputra, E. T. Hadi, Parewa bukan lagi sekadar jagoan jalanan yang liar. Ia adalah simbol kedaulatan diri, kejujuran batin, dan manifestasi dari gerechtigheid (keadilan) yang murni.
Hal ini tampak nyata pada masa gerilya PRRI, di mana Paman Rusli masuk hutan membawa novel Ibunda karya Maxim Gorky. Pengalaman ini membentuk estetika kepenyairannya yang humanis—sebuah “cinta yang menyindir” terhadap realitas sosial yang timpang. Sebagai ahli staatsrecht (hukum tata negara), penulis dengan jeli melihat bagaimana Paman Rusli memosisikan dirinya dalam pusaran sejarah politik Indonesia.
Jurnalisme, Mentorship, dan Tragedi yang Menguatkan
Buku ini merekam dengan jeli kebangkitan Harian Haluan pada 1969, di mana Paman Rusli menjadi salah satu nakhoda di rubrik kebudayaan. Penulis menceritakan bagaimana ia dan Diogenes (putra bungsu Paman Rusli yang kini peneliti Hukum Antariksa di BRIN) tumbuh di tengah gunungan majalah Horison dan Intisari.
Ada catatan liris yang menyentuh di balik proses penerbitan buku ini. Pada November 2024, seluruh koleksi lukisan cat minyak karya penulis—yang semula direncanakan menghiasi sampul dan isi buku—musnah dilalap api. Namun, musibah ini justru menjadi metafora kuat dalam buku: bahwa sementara benda fisik bisa binasa, tambo atau kebenaran batin yang tertuang dalam aksara akan tetap abadi.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Biografi
“PAPA PAREWA ITU PAMAN KAMI” bukanlah biografi dingin yang hanya berisi deretan angka tahun. Ini adalah sebuah surat cinta intelektual yang ditulis dengan gaya bahasa “Pujangga Baru” yang anggun. E. T. Hadi Saputra berhasil memadukan keahliannya sebagai jurnalis senior untuk memotret sang paman sebagai kompas moral sastra Indonesia.
Buku ini wajib dibaca oleh mahasiswa hukum, jurnalis, dan pencinta sastra yang ingin memahami bagaimana sebuah integritas dibentuk melalui penderitaan, buku, dan kesetiaan pada akar ulayat.
Rekomendasi: Sangat Bagus untuk koleksi perpustakaan sastra, sejarah daerah, dan referensi jurnalisme berintegritas.


