www.bisnistoday.co.id
Selasa , 1 September 2026
Home EKONOMI INDEF : Waspada Perlambatan Ekonomi Akhir Tahun
EKONOMIEkonomi & Bisnis

INDEF : Waspada Perlambatan Ekonomi Akhir Tahun

Aktifitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan.
AKTIFITAS Bongkar Muat di Pelabuhan. Belawan, Medan, belum lama. ini. Pemerintah diminta jangan berkutat mengurusi ekonomi domestik, namun harus berputar otak pengembangan pasar luar negeri (Outward Looking)./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) meminta pemerintah untuk tetap waspada adanya peluang perlambatan ekonomi pada Kuartal IV-2022. INDEF memperkirakan, perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan tidak mudah pada Kuartal IV 2022. 

“Tekanan ekonomi mulai terasa memasuki triwulan IV 2022. Pemicunya adalah peningkatan inflasi yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya seiring belum melandainya harga energi dan pangan, yang diikuti dengan pelemahan nilai tukar,” ungkap Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif INDEF, melalui keteranganya di Jakarta, Selasa (8/11). 

Kendati, dalam pertumbuhan ekonomi Kuartal III-2022 mampu bertumbuh 5,72% dibanding pada periode yang sama tahun lalu, Tauhid mengutarakan, hal tersebut menjadi alarm untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi di sisa satu triwulan terakhir tahun ini. 

“INDEF memproyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2022 akan melambat secara moderat di level 5,3 persen, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada 2022 ini sebesar 5,1 persen,” dalam keteranganya. 

INDEF berpandangan, lanjut Tauhid, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2022 mencapai 5,72 persen yang menggambarkan berlanjutnya tren pemulihan ekonomi. Ekonomi Indonesia 2022 Indonesia selalu tumbuh di atas 5 persen (YoY) di triwulan I-III dengan konsumsi rumah tangga dan ekspor sebagai motor utama. 

Terlepas Masa Suram

Mengenai kinerja perekonomian Kuartal IV-2002, Tauhid mengutarakan, INDEF berpandangan, kinerja pertumbuhan muncul dalam Bayang-Bayang atau Low Base Effect tahun Lalu. Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2022 (5,72 persen) tidak lepas dari beratnya ekonomi di triwulan III 2021 yang hanya tumbuh 3,51 persen dan menjadi triwulan tersuram di tahun 2021. 

“Hal ini sangat terlihat secara sektoral di mana sektor transportasi dan pergudangan pada triwulan III 2022 mampu tumbuh tertinggi sebesar 25,81 persen, setelah sebelumnya di periode yang sama tahun lalu mengalami kontraksi -0,72 persen. Hal serupa juga pada akomodasi  makan dan minum,” dalam keteranganya. 

Kedua, menurut INDEF lanjut Tauhid, sektor konstruksi semakin melemah. Hal ini, akibat  laju sektor konstruksi kembali melambat dengan hanya mampu tumbuh 0,63 persen di triwulan III 2022, setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 1,02 persen. Padahal, pada triwulan III 2021 sektor ini mampu tumbuh 3,84 persen. 

Hal ini disebabkan laju belanja modal hingga Agustus 2022 yang terkontraksi hingga 14,85 persen (yoy). Di sisi lain, belanja bangunan oleh swasta juga mengalami perlambatan sebagai akibat permintaan konstruksi yang melambat. 

Pengeluaran Pemerintah

Ketiga, menurut Tauhid, pengeluaran bahwa konsumsi pemerintah kembali di Zona Merah Konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2,88 persen pada triwulan III-2022, dan merupakan satu-satunya komponen sisi pengeluaran yang terjadi kontraksi. 

Realisasi APBN untuk belanja barang dan jasa hingga September 2022 turun dibanding 2021. Konsumsi Pemerintah tidak menjadi gas pertumbuhan tapi malah menjadi rem. Hingga September 2022, realisasinya sangat rendah yakni 61,61 persen atau lebih rendah dari September 2021 yang sebesar 65,7 persen. 

“Peran APBN menjadi shock absorber dalam mempertahankan stabilitas dan pemulihan percepatan pertumbuhan ekonomi pasca pandemi harus dioptimalkan. Khususnya realisasi alokasi anggaran PC PEN untuk kesehatan, perlindungan sosial dan pemulihan ekonomi di triwulan IV,” terangnya. 

Ia mengharapkan, penyerapan perlu ditingkatkan mencapai 100 persen dengan akurasi sasaran yang membaik khususnya bansos dan perlindungan sosial terhadap masyarakat ekonomi lemah yang alami tekanan inflasi. 

Konsumsi Rumah Tangga

Perihal keempat, menurut Tauhid Ahmad, konsumsi Rumah Tangga Menjadi Bantalan Utama. Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,39 persen pada triwulan III 2022 menjadi penopang utama yang membuat pertumbuhan ekonomi di triwulan III tetap berada di jalur ekspansi, meskipun tidak ada momentum puasa dan lebaran seperti triwulan II.

Faktor penyelamat dalam menggerek konsumsi rumah tangga triwulan III adalah konsumsi rumah tangga kelas menengah-atas yang meningkat terutama untuk kebutuhan tersier. Selain itu, adanya bantuan sosial dan subsidi energi juga mempertahankan daya beli konsumsi dan masyarakat menengah ke bawah. 

Kontribusi konsumsi rumah tangga masih paling tinggi terhadap PDB nasional, selain PMTB dan ekspor dengan proporsi 50.38 persen yang menunjukkan bahwa pertumbuhan masih sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Pemerintah di triwulan IV perlu menjaga konsumsi masyarakat baik masyarakat menengah-bawah maupun menengah-atas. 

Bantuan dan perlindungan sosial yang tepat sasaran menjadi salah satu pendorong dalam mempertahankan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Data dari survey registrasi sosial ekonomi (Regsosek) perlu segera digunakan untuk penyaluran bansos dan perlinsos.

‘Windfall’ Mengendor

Hal lainnya, yakni, ‘Windfall’ Net Ekspor Mengendor. Meskipun laju pertumbuhan ekspor sedikit meningkat (dari 20,02 persen di triwulan II 2022 menjadi 21,64 persen di triwulan III 2022), namun tidak secepat peningkatan laju impor (dari 12,37 persen di triwulan II ke 22,98 persen menjadi di triwulan III 2022). 

“Kondisi ini menjadi alarm bagi sektor perdagangan luar negeri dan kinerja cadangan devisa bahwa peningkatan ekspor tidak akan terus berlanjut,” tambahnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rupiah
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Rupiah Terancam Terus Melemah, Prof Didik: BI Tak Bisa Bekerja Sendirian

JAKARTA, Bisnistoday - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih menghadapi tantangan berat dalam...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Tutup Program Magang Pengurus KDKMP Dari 31 Provinsi

LAMONGAN, Bisnistoday - Kementerian Koperasi menutup program magang pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Dorong Pengrajin Tenun dan Petani Kopi Toraja Bergabung dalam Koperasi

TANA TORAJA, Bisnistoday — Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mendorong pengrajin tenun...

Pengembangan Ekspor
Ekonomi & Bisnis

Mendag Busan Ajak UMKM Manfaatkan Program Pengembangan Ekspor Kemendag

BANYUWANGI, Bisnistoday - Menteri Perdagangan Budi Santoso berdialog langsung dengan Asosiasi Pengusaha...