JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kurs rupiah pada perdagangan Kamis (24/6) semakin terpuruk. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap eskalasi kasus baru Covid-19 yang terus berlanjut.
IHSG ditutup melemah 22,49 poin ke posisi 6.012,06, Indeks LQ45 turun 4,91 poin ke posisi 854,7. Sementara kurs rupiah ditutup terkoreksi tujuh poin a ke posisi Rp14.440 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.433 per dolar AS.
“Pelamu pasar modal mencerna pernyataan dari pejabat bank sentral AS bahwa laju inflasi yang tinggi di AS dapat berlangsung lebih lama dari yang diantisipasi. Selain itu, pasar menantikan rilis data klaim tunjangan pengangguran serta hasil stress test perbankan AS,” tulis Tim Riset Phillip Sekuritas dalam kajiannya seperti dikutif Antara di Jakarta, Kamis (24/6).
Sentimen negatif datang dari perkembangan kasus Covid-19 dan kecemasan akan dampaknya terhadap pemulihan ekonomi Indonesia.
Pada Rabu (23/6) jumlah kasus baru Covid-19 mencapai 15.308 kasus, tertinggi selama pandemi. Total kasus positif Covid-19 pun kini menjadi 2.033.421 kasus.
Dibuka menguat, IHSG hanya bertahan di zona hijau pada satu jam pertama perdagangan saja. Setelahnya IHSG melemah dan tak mampu beranjak dari teritori negatif hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat dengan sektor perindustrian naik paling tinggi yaitu 0,66 persen, diikuti sektor barang konsumen non-primer dan sektor properti & real estat masing-masing 0,47 persen dan 0,44 persen.
Sedangkan tujuh sektor terkoreksi dengan sektor infrastruktur turun paling dalam yaitu minus 2,28 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor energi masing-masing minus 1,44 persen dan minus 0,79 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp85,91 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.059.967 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 19,05 miliar lembar saham senilai Rp9,36 triliun. Sebanyak 199 saham naik, 294 saham menurun, dan 145 tidak bergerak nilainya.
Sementara itu bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 0,34 poin ke 28.857,23, Indeks Hang Seng naik 65,39 poin atau 0,23 persen ke 28.882,46, dan Indeks Straits Times meningkat 0,97 poin atau 0,03 persen ke 3.119,59.
Rupiah Merosot
Sementara kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup terkoreksi tujuh poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.440 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.433 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra mengatakan, sentimen yang mendorong pelemahan rupiah hari ini masih relatif sama dengan hari sebelumnya yaitu sikap bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), dan kenaikan kasus positif Covid-19 di dalam negeri.
“Semalam beberapa petinggi bank sentral AS masih menyuarakan potensi kenaikan suku bunga acuan AS yang lebih cepat dari proyeksi sebelumnya karena inflasi yang meninggi meskipun sementara, tapi inflasi ini akan bertahan dalam waktu yang lebih lama,” ujar Ariston.
Menurut Ariston, komentar-komentar tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya.
Dari dalam negeri, pasar kemungkinan masih mengkhawatirkan kasus Covid-19 yang masih terus menciptakan rekor kasus baru. “Pembatasan aktivitas yang lebih lama karena kasus baru masih terus meningkat, bisa menghambat laju pemulihan ekonomi,” kata Ariston./


















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)






















