JAKARTA, Bisnistoday – Ditengah gempuran tekanan global dan domestic, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia merapatkan barisan untuk meredam gejolak pasar uang dan pasar saham. Diketahui bahwa nilai tukar rupiah sudah menembus Rp18.000 per dollar AS, sedangkan IHSG terpelanting ambruk dalam tiga hari terakhir.
“Saat ini memang difokuskan bagaimana fiscal dan moneter seirama saling menudkung, memperkuat dengan kewenangan masing masing. Untuk memperkuat upaya bersama melakukan stabilitasai nilai tukar rupiah,” urai Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Sabtu (6/6).
Meski koordinasi fiscal and moneter sampai sekarang sangat erat, lanjut Perry Warjiyo, dengan kondisi sekarang akan terus ditingkatkan. Hal tersebut dinilai penting ditengah kondisi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Langkah nyata, yang dilakukan adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil instrument keuangan domestic guna mendorong kembali alibaran modal asing (inflow).
Menurut Perry, koordinasi pertama adalah meningatkan imbal hasil agar portofolio inflows kembali masuk. Ditengah kenaikan bunga luar negeri yang mendorong capital outflow. Ada saham, SBN dan juga kecil di SRBI. Sepakat sama sama meningkatan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” urai Perry Warjiyo.
Langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia, disertai peningkatan remunerasi yang dibayarkan BI kepada pemerintah.
“Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah sementara operasi fiskalnya juga mendukung,” ujar Perry.
Menkeu Optimis Membaik
Menurut Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewo, sinkronisasi antara kebijakan fiscal dan moneter akan mampu mengembalikan kepersayaan pasar terhadap perekonomian nasional. Dengan ini diharapkan mampu mengembalikan atau penguatan rupiah.
“Sinergi penuh itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang,” kata Purbaya.
Purbaya mengatakan, untuk memastikan dampak positifnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia mencontohkan, pelemahan rupiah selama ini turut menekan pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat dan pada akhirnya berdampak pada harga jual produk di tingkat konsumen.
“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor. Yang jelas itu kan menaikkan cost of production mereka,” tuturnya.
Ia optimistis, dengan kebijakan yang lebih terkoordinasi dan efektif, stabilitas nilai tukar rupiah akan semakin terjaga. Dampaknya, tekanan biaya produksi dapat berkurang sehingga harga berbagai kebutuhan masyarakat menjadi lebih terkendali.
“Dengan nanti kebijakan lebih bagus itu kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, dan tidak terbebani lagi beban hidupnya. Tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan,” terang Purbaya./ant






































