SUMATERA BARAT, Bisnistoday – Kementerian UMKM percepat pemulihan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) lewat Klinik UMKM Minang Bangkit. Ribuan alat produksi & bahan baku disalurkan ke pengusaha UMKM di 12 wilayah terdampak bencana.
Program ini mendorong kembali beroperasinya toko, warung, kafe, dan restoran untuk mempercepat pemulihan pemulihan aktivitas usaha sebagai penggerak ekonomi lokal.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Siti Azizah, di Sumbar, Senin (9/2) menyampaikan bahwa penyaluran bantuan merupakan bagian dari Layanan Produksi yang dirancang untuk membantu pengusaha UMKM yang terhenti aktivitasnya akibat bencana.
“Klinik UMKM Minang Bangkit menjadi ruang pemulihan agar para pengusaha dapat kembali menjalankan usahanya dan menggerakkan ekonomi daerah,” ujar Azizah.
Berdasarkan SIDT-UMKM, terdapat 662.242 pengusaha UMKM di Sumatera Barat per 31 Oktober 2025. Sementara itu, data Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dashboard Satu Data Kebencanaan per 18 Januari 2026 mencatat sedikitnya 4.876 pengusaha UMKM terdampak bencana.
Untuk mempercepat pemulihan, Klinik UMKM Minang Bangkit beroperasi di Kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat sebagai Command Center dan Service Center pemulihan pengusaha UMKM pascabencana.
Klinik didukung oleh Bank Indonesia, Sampoerna Entrepreneurship Training Center, PIP, PLUT KUKM Sumatera Barat, Forum PKN, Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Sumatera Barat, ABDSI, dan pemangku kepentingan lain melalui tiga fase pendampingan.
Fase Pemulihan
Fase Pulih Mental difokuskan pada pemulihan psikologis dan penguatan motivasi usaha. Fase Pulih Usaha mendorong kembalinya operasional melalui akses pembiayaan, pengelolaan modal, dan manajemen risiko. Fase Tumbuh diarahkan untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi produk, strategi pemasaran, digitalisasi usaha, serta penguatan jejaring dan kemitraan.
Dalam pelaksanaannya, pemulihan dilakukan bersama 19 mitra dengan menyalurkan total 1.140 kompor, 1.040 tabung gas, 415 paket bahan baku produksi, 195 peralatan masak, serta 10.000 sak semen. Penyaluran dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah terdampak.
Pada 22–23 Januari 2026, masing-masing 100 kompor dan tabung gas disalurkan ke Padang dan Padang Pariaman. Pengusaha UMKM di Pesisir Selatan menerima masing-masing 115 kompor, tabung gas, dan paket bahan baku produksi, sementara Kabupaten Agam memperoleh masing-masing 250 kompor dan tabung gas serta 300 paket bahan baku produksi.
Selanjutnya, pada 3–4 Februari 2026, Kota Solok dan Kabupaten Solok masing-masing menerima 100 kompor dan tabung gas, serta tambahan 40 peralatan masak disalurkan ke Agam dan Padang Pariaman.
Pada tahap ketiga, yang dilaksanakan pada 9 Februari 2026, pengusaha UMKM mendapatkan pendampingan serta bantuan sarana peralatan usaha meliputi 75 peralatan masak untuk Padang dan 40 peralatan masak untuk Pesisir Selatan. Adapun bantuan berupa kompor dan tabung gas diberikan ke Pariaman dan Tanah Datar masing-masing 100 paket, serta Padang Pariaman sebanyak 150 paket.
Penyaluran bantuan ini melibatkan kolaborasi dengan BRI, United Tractors, Grab Indonesia, PLN, BSI, Goto, PNM, Bank Indonesia, Pegadaian, BNI, Semen Padang, Distributor Semen Padang, Semen Indonesia, Eka Tjipta Foundation, Telkom Witel Sumbar-Jambi, Podomoro, Universitas Dian Nuswantoro, serta Aman Abadi Nugraha.
Selain bantuan produksi, layanan pemulihan juga mencakup trauma healing melalui konseling psikologis bersama Himpunan Psikologi Indonesia dan Universitas Andalas, dukungan spiritual dengan melibatkan tokoh agama, serta pendampingan pembiayaan dan pemulihan bisnis.
“Harapan kami, pengusaha UMKM Sumatera Barat dapat bangkit dan tumbuh kembali, menjadi kekuatan ekonomi daerah sekaligus simbol ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana,” kata Azizah.



