JAKARTA, Bisnistoday – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatat hingga akhir Maret 2026, pembiayaan di sektor UMKM mencapai 59% dari total portofolio pembiayaan sebesar Rp11 triliun. Hal ini didukung porsi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang kuat yang tercatat sebesar Rp15 triliun hingga akhir Maret 2026.
“Pertumbuhan bisnis tetap menjadi fokus Bank Sampoerna dalam menghadapi dinamika industri perbankan. Karena itu, efisiensi operasional dan pengelolaan risiko yang disiplin terus kami jaga untuk memperkuat fundamental Bank. Hingga akhir Maret 2026, Bank Sahabat Sampoerna membukukan laba bersih sebesar Rp8,9 miliar, meningkat 68% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp5,3 miliar,” ujar Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra di Jakarta, Sabtu (23/5).
Henky menguraikan, pertumbuhan tersebut menjadi bukti kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh terhadap komitmen Bank dalam mendukung sektor UMKM. Salah satu kunci pertumbuhan kepercayaan tersebut adalah upaya Bank Sampoerna yang mampu menghadirkan pengelolaan operasional yang efisien, transparan, dan kredibel. Hal ini tercermin dari rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Sampoerna yang terus membaik menjadi 96,33% pada akhir Maret 2026 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 97,26%.
Menurut Henky, pertumbuhan DPK tersebut turut ditopang oleh meningkatnya porsi dana murah dalam bentuk giro dan tabungan. Hingga akhir Maret 2026, giro perusahaan mencapai Rp2,01 triliun, naik dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp1,34 triliun. Selain itu tabungan juga meningkat menjadi Rp1,43 triliun dari Rp1,31 triliun. Secara keseluruhan CASA (current account & saving account) bertumbuh sekitar 29,6% secara year-on-year.
Melalui penerapan prinsip kehati-hatian, Bank Sampoerna juga senantiasa menjaga kualitas aset dengan pengelolaan risiko yang berkelanjutan. Hal ini dibuktikan oleh rasio kredit bermasalah bersih (Non- Performing Loan/NPL Net) yang tetap terjaga pada level 2,70% hingga akhir Maret 2026.
Sementara itu, Bank Sampoerna juga tetap mempertahankan permodalan dan likuiditas yang sehat hingga akhir Maret 2026. Hal ini terlihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 30,03% dan rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) sebesar 73,27%, dengan total aset Bank mencapai Rp19,5 triliun.
Ekosistem Digital Perbankan
CEO Bank Sampoerna, Ali Yong mengungkapkan, penguatan ekosistem digital menjadi bagian dari strategi Bank Sampoerna dalam memperkuat kinerja fundamental perusahaan sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha. Melalui kerja sama mitra berbasis layanan Bank as a Service (BaaS), Bank Sampoerna berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendorong akses keuangan masyarakat, mencakup penyediaan virtual account, pembayaran melalui QRIS, serta transfer dana host-to-host.
“Sepanjang kuartal pertama 2026, layanan BaaS mencatat lebih dari 495 juta transaksi dengan total volume transaksi mencapai Rp98 triliun. Pertumbuhan ini menjadi bukti kuat kolaborasi yang erat antara Bank Sampoerna dan lebih dari 50 fintech, perusahaan multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya,” jelas Ali.
Selain melalui penguatan layanan digital, Bank Sampoerna juga terus memperluas literasi dan inklusi keuangan melalui penyelenggaraan event edutainment SampoernaFest yang akan terus berlanjut hingga tahun ini. Sepanjang 2025 yang lalu, SampoernaFest telah menggandeng 79 mitra dan pelaku UMKM dari berbagai kategori usaha, mulai dari kuliner hingga lifestyle. SampoernaFest turut menjadi bagian dari upaya Bank dalam memperkuat penghimpunan DPK sekaligus memperluas adopsi layanan perbankan digital melalui Sampoerna Mobile Banking (SMB)./

