www.bisnistoday.co.id
Minggu , 15 Maret 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Menjemput Maut dengan Senyum: Pelajaran Sunyi dari 35 Kisah Penghujung Hidup
Humaniora

Menjemput Maut dengan Senyum: Pelajaran Sunyi dari 35 Kisah Penghujung Hidup

bedah buku
Ustad Abdul Somad bersama Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, Menbud, Fadli Zon, serta Menristek Dikti, Brian Yuliarto./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Langit Jakarta siang itu tampak teduh ketika sholat Jumat, mengawali acara bedah buku 35 Kisah Saat Menjemput Maut di Masjid Baitut Tholibin, lingkungan Kemendikdasmen, Jumat (27/2).

Tema yang diangkat bukan perkara ringan: maut. Sesuatu yang pasti, namun kerap kita singkirkan dari percakapan sehari-hari.“Semua kita akan mati, tinggal menunggu giliran,” ujar Abdul Mu’ti pelan namun tegas.

Kalimat itu seperti mengetuk ruang batin para hadirin. Buku yang dibedah bukan sekadar kumpulan kisah, melainkan cermin tentang bagaimana manusia menghadapi detik-detik terakhir hidupnya.

Hadir dalam kesempatan itu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. Di tengah suasana khidmat, nama dai kondang Ustad Abdul Somad menjadi magnet perhatian.

Dalam paparannya, Abdul Somad menghidupkan kembali tokoh-tokoh besar Islam melalui ceritanya, yang namanya abadi dalam sejarah.

Ia menyebut Khalid bin Walid, sang “Pedang Allah”, panglima yang tak pernah kalah dalam pertempuran. Tubuhnya penuh bekas luka tombak dan pedang. Namun ironi takdir terjadi: ia wafat di atas pembaringan, bukan di medan laga.

Seorang kesatria yang sepanjang hidupnya menjemput maut di garis depan, justru dipanggil dalam kesunyian.“Yang kuat itu bukan otot dan senjata,” tutur Somad, “yang kuat adalah amal terakhirnya.”

Nama Amr bin Ash juga disebut. Politikus ulung yang terlibat dalam pusaran sejarah besar antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Di penghujung usia, Amr bin Ash dikisahkan banyak beristigfar, merasa dosa-dosanya begitu berat. Jabatan, kecerdikan, dan strategi politik tak lagi berarti ketika ajal semakin dekat.

Sejarah, rupanya, bukan hanya soal kejayaan. Ia juga tentang penyesalan, pertobatan, dan harapan akan ampunan.

Nabi dan Para Sahabat: Keheningan yang Menggetarkan

Bagian yang membuat banyak hadirin terdiam adalah kisah detik-detik wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW. Dalam riwayat yang dituturkan, beliau berpulang di pangkuan Aisyah. Ada siwak, ada air liur yang bercampur, ada putri tercinta Fatimah yang tersenyum sekaligus bersedih. Enam bulan setelah itu, Fatimah menyusul.

Kematian tak mengenal status: nabi, sahabat, ulama, hingga rakyat biasa, semuanya menempuh jalan yang sama.

Sahabat Nabi, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat setia yang namanya tak banyak disebut dalam Al-Qur’an namun kisahnya hidup dalam peristiwa hijrah, bahkan berwasiat agar jenazahnya dibawa ke dekat makam Nabi. Jika pintu seakan “terbuka”, ia ingin dimakamkan di sana. Dan sejarah mencatat, ia beristirahat berdampingan dengan Rasulullah.

Begitupun, Umar bin Khattab, tegas dan keras dalam memimpin, justru lembut menjelang wafat. Ia khawatir bukan pada kematian itu sendiri, melainkan pada pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Begitu pula Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Nama-nama besar itu, pada akhirnya, kembali pada kalimat yang sama: la ilaha illallah.

Riset, Pandemi, dan Kesadaran Baru

Fadli Zon menilai buku tersebut penting sebagai pengingat bahwa usia tak bisa diperpanjang atau diperpendek. “Setiap hari adalah anugerah,” katanya. Pengalaman pandemi Covid-19, ketika banyak orang berpulang tanpa perpisahan panjang, menjadi latar refleksi yang kuat.

Brian Yuliarto menambahkan, kesadaran akan kematian justru membuat manusia lebih bijaksana. “Kekayaan dan pangkat akan kita tinggalkan. Di hadapan Allah, yang tersisa hanyalah amal,” ujarnya.

Abdul Somad sendiri sempat berbagi pengalaman pribadinya ketika menempuh studi ke Sudan di tengah situasi perang dan keterbatasan penerbangan. Ancaman kematian terasa nyata. Namun dari sana ia memetik satu pesan sederhana yang berulang kali ia sampaikan: jangan lupa kalimat tauhid.“Kalau belum mati, ucapkan la ilaha illallah. Biasakan lisan itu menyebutnya,” katanya.

Bahkan yang Kejam Pun Takut Mati

Salah satu kisah yang menggetarkan adalah tentang Al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi, sosok penguasa yang dikenal keras dan menumpahkan banyak darah. Diakhir hayatnya, ia tetap memohon ampun. Seolah buku ini ingin mengatakan: sejahat apa pun manusia, ada saat di mana ia berhadapan sendirian dengan ketakutannya.

Ada pula cerita tentang Salman al-Farisi yang meminta rumahnya dibersihkan dan diberi wewangian sebelum ajal datang. Ia seakan tahu tamu agung, malaikat maut, akan berkunjung. Kematian, dalam kisah-kisah ini, bukan sekadar akhir. Ia adalah perjumpaan.

Menghidupkan yang Tersisa

Bedah buku itu berakhir tanpa tepuk tangan riuh. Yang ada hanya wajah-wajah yang tampak merenung.Barangkali karena maut bukan topik untuk dirayakan, melainkan direnungkan.

Di tengah hiruk pikuk jabatan, ambisi, kekayaan, dan perdebatan politik, 35 Kisah Saat Menjemput Maut mengajak pembacanya mundur sejenak. Mengingat bahwa sehebat apa pun manusia membangun dunia, ia tetap akan meninggalkannya.

Dan mungkin, seperti yang diulang berkali-kali siang itu, yang terpenting bukan kapan kita mati. Melainkan dalam keadaan apa kita menjemputnya./

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

GLOBALHumanioraKawasan Global

Sisa Benteng Pasukan Romawi Ditemukan di Skotlandia

GLASGOW-Bisnistoday: Para arkeolog di Skotlandia menemukan sisa-sisa benteng kecil Romawi di samping...

GLOBALHumaniora

Ratusan Koin Emas Kuno Senilai Rp8,5 Miliar Ditemukan di Rusia

MOSKOW-Bisnistoday: Para peneliti baru-baru ini menemukan tumpukan 409 koin rubel emas di...

Humaniora

Sharp Bersedekah 2026, Mengubah Partisipasi Publik Menjadi Kebaikan

JAKARTA, Bisnistoday – Komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan keberlanjutan kini bukan...

Humaniora

Menelusuri Noda Hitam Monopoli Candu

Judul: Asap Kelam di Bandar Amfioen Penulis: E. T. Hadi Saputra Penerbit:...