JAKARTA, Bisnistoday – Pelaku pasar saham menilai konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela terkait penangkapan Presiden Nicolas Maduro, tidak terlalu berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Bahkan, analis menilai dampak isu global ini tidak berlangsung lama mempengaruhi pasar.
“Perkembangan geopolitik selama akhir pekan terakhir, yaitu serangan AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro, kemungkinan akan memicu sentimen risiko sementara di perdagangan awal pekan, yang dapat mendorong minyak, emas, dan dolar AS,” ungkap Rully Arya Wisnubroto, Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Senin (5/1). “Dalam pandangan kami sentimen ini akan berumur pendek.”
Dampak langsung dari ketegangan ini terhadap Indonesia tidak terlalu besar, mengingat pangsa ekspor Indonesia ke Venezuela relatif kecil. Data terbaru menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Venezuela pada Kuartal III-2025 sebesar USD68,7 juta, hanya 0,03% dari total ekspor Indonesia selama periode tersebut.
Menurut Rully, sentimen risk-off jangka pendek dari ketidakpastian geopolitik juga direpon mayoritas pasar ekuitas global juga ditutup lebih tinggi pada hari perdagangan pertama tahun 2026, termasuk S&P500 yang naik 0,2% menjadi 6.858,5. Sebagian besar pasar saham Eropa juga menguat, dengan DAX Jerman dan FTSE Inggris masing-masing naik 0,2%.
Kendati begitu, lanjut Rully Arya, ada potensi tekanan lebih lanjut pada Rupiah yang akan diupayakan BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur pertama tahun 2026, yang akan diselenggarakan pada 20-21 Januari 2026.//







































