JAKARTA, Bisnistoday – The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga tetap pada pertemuan akhir Juli 2025. Hanya saja, keputusannya menjadi semakin kompleks karena beriringan dengan rilis data makro penting seperti PDB (Produk Domestik Bruto), pasar tenaga kerja, dan inflasi, yang semuanya berpotensi memengaruhi arah kebijakan ke depan negara Paman Sam ini.
Hal ini merupakan proyeksi dari Analis Mirae Asset Sekuritas, Karinska Salsabila Priyatno di Jakarta, Senin (28/7). Menurutnya, proyeksi awal menunjukkan PDB AS Kuartal II- 25 akan tumbuh 2,4% YoY, didorong oleh penurunan defisit perdagangan. Meski begitu, indikator permintaan domestik masih lemah, terlihat dari konsumsi yang mulai melandai, perlambatan rekrutmen, dan potensi kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,2% YoY, sehingga mendorong The Fed untuk tetap berhati-hati.
“Dengan situasi tersebut, kami meyakini The Fed akan menahan suku bunga sambil mencermati tekanan politik jangka pendek dan tren disinflasi jangka menengah, apalagi di tengah meningkatnya desakan dari Gedung Putih untuk segera menurunkan bunga,” urainya.
Lebih lanjut Karinska menjelaskan, sikap hati-hati serupa juga terlihat dalam lelang SRBI terbaru, di mana BI tetap menyerap IDR 30.0 triliun, namun membiarkan yield turun di semua tenor. Yield tenor 12 bulan turun menjadi 5,5691% seiring lonjakan permintaan investor.
Langkah Bank Indonesia
Menurut Karinska, langkah BI ini sengaja diambil untuk memperkuat sinyal dovish pasca pemangkasan suku bunga sebelumnya, tanpa harus menyuntikkan likuiditas berlebih. Turunnya minat pada SRBI 6 bulan mengindikasikan pasar sudah mulai mengantisipasi kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan di akhir tahun.
Analis Mirae Asset Sekuritas ini menungkapkan, ke depan, rencana penerbitan kangaroo bond pada Agustus menambah dinamika baru. Meski potensi permintaan dari investor Australia terbatas, peningkatan porsi obligasi valas menjadi 14,14% dari total penerbitan bisa mengurangi tekanan pasokan obligasi berdenominasi Rupiah.
“Dikombinasikan dengan foreign inflow ke SBN sebesar USD 3,82 miliar dan defisit fiskal yang terjaga di bawah 3%, kami melihat sentimen pasar obligasi Rupiah masih cukup solid untuk berlanjut positif.”//



