JAKARTA, Bisnistoday – Pasar saham Indonesia mulai memasuki periode yang makin atraktif. Optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional bikin minat investor khususnya asing, mengalir deras ke Bursa Efek Indonesia. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pasar obligasi negara (SBN) yang justru sedang kurang diminati.
Senior Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mencatat bahwa IHSG pada Jumat (14/11) terkoreksi tipis 0,02% ke level 8.370,4. Di saat yang sama, Rupiah ditutup melemah di 16.712 per USD, tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed (FFR) menjelang 10 Desember 2025. Ketidakpastian ini muncul karena AS belum merilis data ekonomi penting yang biasanya jadi penentu arah kebijakan.
Indeks Dollar AS (DXY) tercatat masih stabil di atas level 99, didorong oleh turunnya ekspektasi pemangkasan FFR. Dampaknya, harga emas global terkoreksi dalam dua hari terakhir dan ditutup pada USD 4.168,7. Sementara itu, sentimen di pasar SBN masih relatif terjaga—CDS 5 tahun Indonesia stabil di 74,95, meski mencatat kenaikan tipis dalam dua hari terakhir.
Dana Asing Masuk ke Saham, Keluar dari Obligasi
Sepanjang bulan November, investor asing tercatat lebih agresif mengalirkan dana ke pasar saham. Net inflows asing mencapai Rp7,5 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan SBN yang justru mencatat net outflows Rp5,5 triliun.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa investor global saat ini lebih percaya pada prospek kinerja perusahaan-perusahaan Indonesia dibandingkan stabilitas fiskal jangka menengah.
Menurut analis, meningkatnya selera investor terhadap saham dipengaruhi harapan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menguat dalam beberapa kuartal ke depan. Sementara itu, kekhawatiran terkait laju inflasi dan kondisi fiskal membuat pasar SBN tampak kurang seksi di mata investor asing. //







































