JAKARTA, Bisnistoday – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin yang memutuskan BI Rate di level 6,25% dinilai pengamat ekonomi sebagai langkah yang tepat, taktis, dan penuh kehati-hatian. BI Rate ini juga sebagai upaya membuat nilai tukar Rupiah makin berdaya.
“Langkah tepat, BI Rate di level 6,25 untuk menjaga kestabilan moneter, terutama mempertahankan posisi rupiah agar lebih berdaya tahan terhadap dolar AS dan melanjutkan penguatan rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Pelaku pasar dan pebisnis serta perbankan diperkirakan tidak terkejut dan bisa memahami keputusan BI ini,” ungkap Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty LPPI di Jakarta, Kamis (22/8).
Menurut Ryan, perlu diingat dan dimengerti bahwa, pertama, penguatan rupiah akhir-akhir ini lebih dikarenakan faktor sentimen global oleh depresiasi dolar AS terhadap mata uang kuat lainnya (yen, poundsterling, euro).
Disisi lain, lanjut Ryan, kedua yakni ekonomi Indonesia sedang dalam situasi memasuki transisi pemerintahan pada Oktober dan menjelang pilkada serentak pada November nanti sehingga menciptakan ketidakpastian dari aspek politik domestic.
Ryan menambahkan, yang ketiga, apalagi saat ini terpantau indikator makroekonomi sedang bergerak dalam trend melemah seperti terlihat dari turunnya PMI Juli ke 49,3; kuantitas pengangguran naik, indeks kepercayaan konsumen dan pebisnis menurun meskipun masih di atas ambang batas, dan deflasi tiga bulan berturut-turut.
Menurut Ekonom Senior ini, selanjutnya keempat, sebagai pertimbangan tambahan boleh jadi bank-bank sentral di seluruh dunia -termasuk BI- tengah menanti sikap The Fed di September nanti yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25-50 basis poin.
“Maka, di September atau Oktober nanti BI punya ruang menurunkan BI Rate, dengan persyaratan inflasi terkendali dan rupiah stabil.”
Terlebih, apabila sampai September atau Oktober nanti tetap terpantau melemahnya beberapa indikator ekonomi domestik.Ini bakal mendorong BI untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6% untuk mengakselerasi perekonomian nasional yang terindikasi melemah./









































