JAKARTA, Bisnistoday – Puluhan tahun berkecimpung sebagai wartawan, Yudo Dahono karib dengan verifikasi berita. Metode cek and ricek itu merupakan ‘nyawa’ proses pembuatan berita. “Bahkan sejak di bangku kuliah itu telah diajarkan di semester awal,” kata lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung ini.
Oleh karena itu, ia miris sekaligus geram dengan berita atau kabar bohong (hoaks) yang bahkan sudah menjurus ke arah penipuan. Ia mencontohkan, ulah tiga warga Pangandaran yang membuat video palsu Gubernur Jawa Timur saat itu, Khofifah Indar Parawansa, pada April lalu.
Dalam video itu, sosok yang menyerupai Khofifah menawarkan sepeda motor seharga lima ratus ribu rupiah, lengkap dengan surat-surat kendaraan. Video itu disebarkan melalui media sosial dan mengarahkan calon korban ke nomor WhatsApp yang dikelola pelaku.
Wajahnya dikenal. Suaranya terdengar meyakinkan. Gerak bibirnya tampak mengikuti kata-kata yang diucapkan. Sekilas, video itu dapat terlihat seperti pengumuman resmi. Beruntung polisi berhasil meringkus tiga pelaku.
Kasus ini mungkin bukan kasus dengan nilai kerugian terbesar. Namun, bagi Yudo, kasus tersebut memperlihatkan betapa cepat lanskap penipuan di Indonesia berubah. Wajah yang dikenal, suara yang meyakinkan, dan nama pejabat kini dapat disalahgunakan untuk membuat penawaran palsu terlihat resmi.
“Ini bukan soal pintar atau gagap teknologi. Siapa pun bisa kena, termasuk saya, termasuk Anda,” tulisnya di buku berjudul ‘Jangan Langung Percaya, Cek Dulu: Cara Mengecek Modus Penipuan Digital Tanpa Harus jadi Ahli IT.’
Dalam menulis buku ini, Yudo yang berpengalaman di berbagai bidang liputan ini, tidak menempatkan dirinya sebagai pengamat dari jauh. Karena, ia sendiri harus belajar ulang cara memeriksa sesuatu sebelum memercayainya.
“Bertahun-tahun menekuni dunia media membuat saya percaya diri bisa membedakan kabar asli dari kabar bohong hanya dengan naluri dan pengalaman. Sekarang saya tahu naluri saja tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan baru, bukan sekadar insting lama yang dipertajam,” katanya. (hlm 4).
Kehidupan sehari-hari
Buku dalam format digital sebanyak 158 halaman ini tidak mengajari pembaca menjadi ahli keamanan siber. Buku ini juga tidak berjanji bahwa mereka akan selalu bisa membedakan mana yang dibuat dengan AI dan mana yang bukan.
Sebaliknya, buku ini menunjukkan cara memeriksa klaim, identitas, sumber, dan permintaan sebelum uang, data, atau akses telanjur diberikan.
Melalui kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Yudo mengajak pembaca memahami berbagai modus penipuan digital modern, mulai dari video pejabat palsu, peniruan suara keluarga, bukti transfer manipulatif, lowongan kerja palsu, customer service gadungan, permintaan identitas yang mencurigakan, hingga investasi yang menjanjikan keuntungan instan.//







































