JAKARTA, Bisnistoday – Pengamat ekonomi memprediksikan bahwa peluang krisis ekonomi Amerika Serikat (AS) terjadi paling lambat September 2023 mendatang. Apabila terjadi, maka peluang Indonesia menjadi salah satu negara tujuan investasi makin diuntungkan.
“Secara teknikal memang sudah terjadi krisis, namun para ekonom memperkirakan benar-benar krisis terjadi paling lambat sekitar September 2023 mendatang. Kalau itu terjadi, tentu investor mencari tempat investasi yang lebih menguntungkan dan secure,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Ekonom Senior, Mirae Asset Management di Jakarta, kemarin.
Menurut Rully, dengan inflasi berada di rentang tinggi, para negara maju memilih terapkan bunga agresif. Ini menjadi persoalan dengan dampak apakah terjadi penurunan ekonomi bersifat hard landing atau soft landing. “Problem negara maju dan Eropa serta Inggris, agak susah menurunkan inflasi ini, sticky. Dan probabilitas terjadi resesi,” terangnya.
Tidak jauh berbeda dengan Tiongkok, menurut Rully, bahwa sejak ditetapkan zero covid, maka pertumbuhan ekonomi cerderung lebih moderat. Seperti biasanya, pertumbuhan sekitar 8-10% maka agak di-rem, dengan pertumbuhan 5%.” Untuk Indonesia BI Rate masih berpeluang naik, meski rentangnya terbatas, dan kondisi masih cukup baik,” tuturnya.
Indonesia Bertahan
Tak hanya itu, menurut Rully, Indonesia lebih mampu bertahan dengan kenaikan bunga setengahnya dari pergerakan bunga dari negara maju seperti AS. Kenaikan BI Rate sendiri kemungkinan kecil, dan cenderung stabil di posisi sekarang.
“Dengan nilai tukar yang berada di kisaran Rp14.700- Rp14.800 relatif stabil, maka bond market (pasar obligasi) menjadi pilihan yang menarik,” ujarnya.
Bank Sentral AS sendiri, lanjut Rully sekarang mulai hati-hati untuk jor-joran menaikan suku bunganya. Ini mempertimbangkan ambruknya perbankan seperti SVB, Signature Bank dan lainnya juga di Eropa seperti Credit Suisse.”The Fed cenderung hati-hati, pengaruh risiko pebankan, dan tak sampai akhir tahun AS kemungkinan resesi.”
Selama ini, pengangguran AS relatif masih rendah, dan hal ini terjadi sejalan tingkat jam kerja terus menurun. Hanya saja, ketika pendapatan mulai turun dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan sekitar 4%. Selama ini, pengangguran masih terhitung rendah sekitar 2%.”Bank Sentral, kemungkinan turunkan suku bunga,” ucapnya.
Dengan begitu, IMF memprediksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,9% atau lebih rendah dibanding tahun 2022 yang mencapai 3,4%. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tahun ini sekitar 4,8% dengan pertumbuhan tahun 2024 sebesar 5,1%./








































