BANDUNG, Bisnistoday – Di tengah tantangan kualitas pendidikan dasar pascapandemi, secercah harapan tumbuh dari SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung. Revitalisasi sarana pendidikan yang dibarengi digitalisasi pembelajaran tak hanya memperbaiki bangunan fisik sekolah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat belajar para siswa.
Harapan itu menguat saat Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung pelaksanaan program revitalisasi satuan pendidikan dan pemanfaatan teknologi pembelajaran digital di sekolah tersebut, kemarin.
Melalui dukungan anggaran pemerintah sebesar Rp180 juta, dua ruang kelas dan satu perpustakaan yang sebelumnya rusak parah kini kembali berdiri kokoh. Tak berhenti pada perbaikan fisik, sekolah juga mendapatkan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP), teknologi pembelajaran yang menghadirkan pengalaman belajar lebih interaktif, visual, dan menyenangkan.
Dalam kunjungannya, Wamen Fajar menyempatkan diri masuk ke ruang kelas, berdialog dengan guru, serta menyapa siswa yang tengah mengikuti proses belajar mengajar. Ia ingin memastikan bahwa bantuan negara benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar proyek infrastruktur.
Tak hanya menyoroti aspek akademik, Fajar juga menanamkan nilai karakter kepada para siswa. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya nilai bermasyarakat.“Menjaga kebersihan itu bukan hal kecil. Itu bagian dari karakter. Anak-anak harus terbiasa membuang sampah pada tempatnya, di sekolah, di rumah, dan di mana pun berada,” ujar Fajar di hadapan para siswa.
Sekolah yang Pernah Hampir Mati
Kepala SD Yayasan Amal Keluarga, Asep Miftahudin, mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, kondisi sekolah berada di titik yang mengkhawatirkan. Pandemi COVID-19 membuat aktivitas sekolah nyaris berhenti total selama hampir dua tahun. Akibatnya, bangunan sekolah rusak dan tak terawat.
“Atap rusak parah, perpustakaan nyaris tak bisa digunakan. Kami bahkan sempat memindahkan siswa ke ruang lain demi keselamatan mereka,” ungkap Asep.
Kondisi tersebut tak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga memengaruhi psikologis siswa. Ruang belajar yang sempit dan tidak layak membuat semangat sekolah anak-anak menurun.
Kini, situasi itu berubah drastis. Ruang kelas dan perpustakaan yang telah direhabilitasi kembali digunakan. Suasana sekolah pun hidup kembali.“Anak-anak sekarang lebih gembira, nyaman, dan semangat datang ke sekolah. Guru-guru sangat bersyukur. Bantuan ini benar-benar menyelamatkan sekolah kami,” ujarnya.
Digitalisasi yang Mengubah Cara Belajar
Kehadiran IFP menjadi babak baru dalam pembelajaran di sekolah tersebut. Teknologi ini memungkinkan guru menyajikan materi secara visual dan interaktif, sekaligus mendorong partisipasi aktif siswa.
Guru kelas IV, Murti Kurnia, menyebut digitalisasi pembelajaran membawa perubahan besar dalam motivasi belajar siswa.“Anak-anak jadi lebih antusias dan ceria. Bahkan yang sebelumnya malas sekolah, sekarang jadi semangat karena ingin belajar pakai layar besar,” tuturnya.
Menurut Murti, digitalisasi pembelajaran penting agar siswa tidak tertinggal oleh perkembangan zaman, terlebih tidak semua peserta didik memiliki akses perangkat digital di rumah.
Hal serupa dirasakan langsung oleh siswa. Jovinka, siswa kelas II, mengaku senang belajar menggunakan IFP.“Aku suka matematika sekarang. Belajarnya seru, bisa sambil main game bareng teman-teman,” katanya polos.
Revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran di SD Yayasan Amal Keluarga menjadi contoh bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya soal gedung baru, tetapi juga soal mengembalikan martabat belajar anak-anak Indonesia.Ketika ruang kelas kembali layak dan teknologi hadir sebagai jembatan pembelajaran, sekolah tak lagi sekadar tempat belajar, melainkan ruang tumbuhnya harapan masa depan.//



