Gambang Kromong merupakan pecahan dari kesenian Cokek yang berasal dari negeri Cina. Selain Gambang kromong kesenian Betawi lainnya adalah Tan Ji Dor yang barawal dari Negeri Belanda dan Rebana dari kesenian Arab. Ketiga ragam kesenian tersebut mulai berkembang sejak zaman VOC, atau zaman penjajahan Belanda. Dalam kelanjutannya, tiga kesenian tersebut, mengalami penyesuaian dengan unsur budaya lokal karena berbagai perkembangan sosial. Tiga seni pentas tersebut hampir serupa tetapi tidak sama dalam penampilannya. Kesenian yang terus mengalami penyesuaian dangan budaya lokal salah satunya kesenian gambang kromong.
Menurut tokoh Betawi Samin umur 79 tahun sebagai orang Betawi asli yang lahir hingga sekarang bercokol di kawasan Setu Babakan, Jagakarsa pinggiran Jakarta Selatan ini, kesenian gambang kromong aslinya pertunjukan seni pantun diringi dengan musik gamelan. Kesenian berdasar pantun bersaut ini, diringi dengan irama musik yang dimainkan kurang lebih 5-6 pemain. Seniman tersebut mamainkan alat musik seperti gambang, gendang, kempol, tekyan, konganyan, cukong,suling, dan sebagainya.
Kalau kesenian cokek, jelas Samin, tidak menyampaikan unsur cerita kejadian sehari-hari. Cokek merupakan kesenian lebih tua dari gambang kromong ini hanya menonjolkan kesan pesta, hura hura, dengan diiringi musik hampir sama dengan gambang kromong. Pelantun Cokek atau disebut ronggeng, usai menyayikan satu atau tiga lagu akan melempar selendang ke salah satu penonton. Apabila satu penonton terjaring selendang, maka penonton tersebut diajak menari bersama pelantun Cokek. Pada umumnya, kesenian cokek digelar oleh warga keturunan asing atau akrab disebut Cina Benteng. Dan sampai sekarang ini, jenis kesenian Cokek masih ada di Tangerang, Banten.
Berbeda sedikit dengan Gambang Kromong, walau jenis musiknya mirip dengan cokek, kesenian asli Betawi ini lebih menonjolkan unsur pantun, syair yang berbalas ketimbang nyayian cokek. Isi pantun gambang kromong juga lebih banyak menganggakat tema kejadian sehari-hari di lingkungan Kota Jakarta. Kesenian yang biasanya digelar untuk memperingati pesta, hari ulang tahun, pesta perkawinan ini, biasanya dilakukan pada malam hari antara pukul 8 malam hingga jam 4 pagi. Namun sekarang ini karena kondisi tidak memungkinkan biasanya hanya digelar tidak lebih 3 tiga jam tergantung permintaan pemilik hajad.
Memasuki abad 21, kesenian gambang kromong berkembang lebih memasyarakat dengan apa yang disebut kesenian lenong Betawi. Perjalanan panjang untuk melahirkan seni lenong yang berasal genre
seni hiburan cokek, gambang kromong diilai lebih unik. Lenong merupakan wujud baru terlahir dari gambang kromong. Perbedaan yang menonjol seni lenong adalah aspek penceritaan.
Gambang kromong hanya melantunkan syair dan pantun, tetapi lenong menyajikan cerita sejarah, cerita kejadian sehari-hari dan sebagainya. Gambang Kromong apabila dibubuhi cerita rakyat layak disebut sebagai lenong. Sementara pementasan lenong mulai muncul sejak tahun 1930-an. Isi cerita lenong yang bertema sejarah diantara petualangan si Pitung, dan sang legendaris cerita rakyat tokoh Betawi yakni Si Ji’i.
Pria kelahiran 25 Maret, 79 tahun silam ini mengakui, minat khusunya generasi muda Betawi untuk melestarikan musik lenong semakin memudar. Mayoritas anak muda cenderung menyukai musik barat tanpa ada pembelajaran sejarah apapun di lingkungannya. Walau demikian, Samin merasa tersinggung apabila kesenian lenong dikatakan sudah uzur atau mendekati liang kubur.
Samin mengaku, sekarang kesenian tua era Betawi lama tersebut masih berkibar di lima wilayah Kota Jakarta. Apabila satu wilayah kota memiliki 3 group lenong saja, maka sudah 15 group yang masih sanggup menggelar kesenian rakyat Betawi. Padahal, dalam satu wilayah kota ada lebih tiga group lenong.
Andi pemilik sanggar Seni Betawi Setu Babakan mengaku, kesenian gambang kromong sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Selanjutnya pada masa peralihan dengan penjajahan Jepang seni gambang kromong mulai bergeser sehingga terjadi perubahan mendasar baik isi maupun bentuk tampilan musik. Gambang Kromong merupakan seni pantun yang disajikan melalui dialog dengan nuansa banyolan menghibur. Hanya saja, gambang kromong tidak menampilkan cerita sejarah. Apabila pagelaran dikaitkan cerita sejarah dinamakan seni lenong.
Pria Betawi Asli yang kesehariannya mengajar bidang seni di Sekolah Al Azar, Pondok Labu dan Fadilah di Cijantung ini mengatakan, gambang kromong dengan tampilan lengkap disajikan satu group terdiri 12 pemain musik dengan diantaranya kongayan, tekyan, sukong, gambang, suling, gendang, terompet. Andi mengaku sampai sekarang telah mendidik sekitar 48 anak usia sekolah untuk siap sebagai pemaian gambang kromong atau lenong. Sekitar 14 anak diantaranya dididik di sanggar Setu Babakan.
Untuk sekali penyelenggaraan, salah satu group gambang kromong yang dipimpinnya hanya mematok harga Rp 2 juta untuk pemain junior. Sementara untuk pemain senior butuh dana agak besar sekitar Rp 3,5 juta sekali pentas gambang kromong. Menurut Andi, apabila ada warga yang berminat untuk pagelaran gambang kromong cukup hanya mengontak saja dan untuk selanjutnya, seluruh peralatan musik dan properti serta organ datang sendiri ke lokasi.
Pelaku seni gambang kromong ini mengakui untuk wilayah DKI Jakarta jenis kesenian gambang kromong masih akrab didengar di telinga masyarakat. Bahkan, kesenian tersebut kata Andi terus bertahan ditengah hingar bingar kesenian barat. Hal tersebut, karena seni gambang kromong terus menerus diajarkan pada setiap kegiatan seni sekolah.//







































