JAKARTA, Bisnistoday – Kinerja perdagangan Indonesia kembali menunjukkan tren positif dengan mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 1,27 miliar pada Februari 2026. Capaian ini meningkat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar USD 0,95 miliar, sekaligus memperpanjang tren surplus menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (2/4) menjelaskan, tren tersebut sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai level 53,8 pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2024. Hal ini memberikan sinyal optimisme terhadap prospek perdagangan dan industri nasional ke depan.
Secara keseluruhan, lanjut Busan, kinerja perdagangan Indonesia pada awal 2026 menunjukkan kombinasi antara daya tahan ekspor dan peningkatan aktivitas industri, meskipun masih dihadapkan pada tantangan defisit migas dan dinamika pasar global.
Surplus pada Februari terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatatkan kelebihan sebesar USD 2,19 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit sebesar USD 0,92 miliar. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai konsistensi surplus tersebut mencerminkan ketahanan fundamental perdagangan nasional di tengah ketidakpastian global.
Lebih lanjut Ia menuturkan, secara kumulatif, neraca perdagangan periode Januari–Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 2,23 miliar. Surplus nonmigas sebesar USD 5,42 miliar berhasil menutup defisit migas yang mencapai USD 3,19 miliar.
Dari sisi mitra dagang, Indonesia mencatatkan surplus terbesar dengan Amerika Serikat sebesar USD 3,11 miliar, diikuti India USD 2,29 miliar, dan Filipina USD 1,54 miliar. Sebaliknya, defisit terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar USD 4,99 miliar, serta Australia dan Singapura masing-masing USD 1,69 miliar dan USD 1,48 miliar.//







































