JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta bertanggungjawab penuh terhadap kejadian bencana meletusnya Gunung Semeru, di Jawa Timur yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda masyarakat. Pemerintah dinilai lalai dan gagal dalam memberikan informasi kepada masyarakat atau mitigasi terhadap bencana.
“Kegagalan sistem mitigasi bencana ini harus mendapat perhatian dari pemerintah pusat karena ini menyangkut nyawa dan keselamatan masyarakat,” tukas Fatmata Juliansyah
Manager Advokasi dan Kampanye KAWALI Nasional dalam keteranganya di Jakarta, Minggu (5/12).
Fatmata Juliasyah (Fati) menyatakan, tidak adanya peringatan/early warning system pada bencana alam ini menandakan kegagalan sistem mitigasi bencana.”Pemerintah gagal dalam memberikan informasi kebencanaan dan rakyat jadi korban. Percuma anggaran negara untuk membiayai petugas yang gagal menjalankan tupoksinya,” tegasnya.
Dalam hal ini, menurut Fatmata, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) yang memiliki peranan untuk menyampaikan informasi dan peringatan dini kepada instansi, pihak terkait, dan masyarakat berkenaan dengan bencana akibat faktor geofisika pun dapat dikatakan gagal menjalankan perannya.
Disaksikan bersama bahwa sekitar pukul 15.00 WIB sore pada Sabtu (4/12) Gunung Semeru erupsi mengeluarkan semburan awan panas, yang mengakibatkan warga sekitar panik berlarian menghindari awan panas tersebut.
Tampak terlihat anak kecil yang berlarian dalam suasana sekitar yang sudah cukup gelap tertutupi oleh awan panas dari erupsi gunung tersebut, sehingga hal ini menimbulkan pertanyaan, apa tidak ada peringatan sebelumnya?
“Apa tidak diberlakukan early warning system? Dalam saat-saat darurat seperti ini early warning system sangat penting dan diperlukan untuk menunjang mitigasi bencana demi keselamatan warga sekitar,” tukas Fatmata.
Sementara, Wigyo Ketua DPW KAWALI Jawa-timur menyampaikan Early warning system harus selalu aktif dan tersedia di setiap daerah yang rawan bencana seperti di desa sekitar gunung berapi. Ini sangat penting, karena sebagai sensor yang dipasang di dekat seismometer yang akan berbunyi sebagai informasi bahwa ada peningkatan aktivitas/pergerakan besar gunung berapi.
“Namun pada kejadian erupsi gunung semeru ini diketahui bahwa tidak ada peringatan/pemberitahuan dini sebelumnya, maka sangat bahaya sekali bagi masyarakat sekitar,” tegas Wigyo.
Sedangkan penjelasan dari Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM Eko lelono menyebutkan bahwa pada sekitar pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir pada seismograf, tetapi tidak ada peringatan dini sampai sekitar pukul 15.00 WIB ketika masyarakat berhamburan panik saat erupsi terjadi./










































