JAKARTA, Bisnistoday – Diprediksikan pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia untuk Q-II 2023 berkisar 5,1% secara tahunan (year on year).
“Sebagai pendorong pertumbuhan PDB adalah pencabutan PPKM sehingga terjadi lonjakan mobilitas orang, barang dan jasa,” ungkap Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia/LPPI di Jakarta, Minggu (6/8).
Ia menuturkan, pengeluaran konsumsi timah tangga yang diperkirakan tumbuh cukup tinggi berkisar 4,9% yg secara historis setara dengan 53% dari total pembentukan PDB Indonesia 2023.
Demikian juga, lanjut Ryan Kiryanto, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga tumbuh positif terlihat dari capaian nilai investasi di Q-II yang tetap konsisten secara proporsional.
“Surplus neraca dagang dalam 30 bulan berturut-turut juga menopang pertumbuhan ekonomi dari aktivitas ekspor dan impor, yang tercermin dari capaian Purchasing Manager Index (PMI) yg di zona ekspansi (di atas level 50, tepatnya berkisar 52).”
Sementata, menurut Ryan Kiryanto, cadangan devisa juga tercatat tkbggi berkisar 139 miliar dolar AS yg cukup memenuhi kewajiban internasional lebih dari 6 bulan, jauh di atas threshold yg 3 bulan.
“Ini diperkuat dari data pertumbuhan kredit tahunan yg sebesar 9% yoy dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI yg mencapai kisaran 6.800-6.900 dengan jumlah emiten yg terus bertambah. Inflasi juga terkendali sesuai ekspektasi menuju kisaran 2-4%. “
Menurut Ryan, dengan game changer PPKM yang dicabut itu, membuat dorongan konsumsi rumah tangga melonjak di waktu perayaan lebaran Idul Fitri pada 22 April lalu sehingga menopang konsumsi akmamin (akomodasi, makanan dan minuman) atau sektor horeka (hotel, restoran dan kafe).
“Pengeluaran konsumsi pemerintah juga lebih baik di Q2 dibanding di Q1 sehingga juga mampu menopang aktivitas ekonomi dari pelaksanaan proyek2 strategis pemerintah,” tuturnya.








































