www.bisnistoday.co.id
Kamis , 24 September 2026
Home OPINI Gagasan Indonesia Terancam Darurat Beras
Gagasan

Indonesia Terancam Darurat Beras

BERAS KARUNG berada di salah satu Gudang Bulog, belum lama ini./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah saat ini sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk terkait darurat harga dan stok beras. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah mempercepat impor beras dan meningkatkan penyaluran beras ke pasar serta kepada keluarga-keluarga yang tidak mampu. Selain itu, Gerakan Nasional Penanganan Dampak El Nino juga telah digulirkan.

Situasi ini seharusnya sebagai bangsa dijadikan sebuah alarm perubahan. Mengandalkan impor sebagai solusi jangka pendek, mungkin dapat menyelesaikan masalah ketersediaan beras saat ini, namun bukan solusi jangka panjang.

Kemandirian pangan harus menjadi prioritas utama, dan ini berarti investasi besar-besaran dalam penelitian, pengembangan, dan pendidikan pertanian. Memanfaatkan teknologi terbaru, mengembangkan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, dan mendidik petani dengan metode pertanian yang lebih berkelanjutan dan efisien menjadi penting.

Salah satu langkah strategis yang perlu ditempuh adalah diversifikasi sumber karbohidrat. Selain beras, Indonesia kaya akan sumber karbohidrat lain seperti singkong, jagung, sagu, dan tapioka.

Pemanfaatan sumber-sumber karbohidrat ini tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan pada beras, tetapi juga memperkaya variasi konsumsi masyarakat, meningkatkan ketahanan pangan, dan memberikan peluang ekonomi baru bagi petani.

Darurat beras ini seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kebijakan pangan nasional dan memastikan bahwa fokus tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan saat ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan yang lebih berkelanjutan dan mandiri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis pangan seperti ini menunjukkan kerentanan sistem pangan. Meskipun Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan potensial, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Peningkatan ketergantungan pada impor menunjukkan bahwa ada celah dalam sistem produksi dan distribusi pangan.

Sebagai negara agraris, seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri tanpa harus bergantung pada negara lain.

Selain itu, perubahan iklim yang semakin ekstrem menuntut adaptasi dan inovasi. Penerapan teknologi pertanian modern, seperti hidroponik dan aeroponik, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas tanpa tergantung pada kondisi cuaca.

Sementara itu, pendidikan pertanian yang diberikan kepada generasi muda harus relevan dengan tantangan zaman, sehingga mereka dapat menjadi agen perubahan dalam industri pangan.

Kerjasama yang lebih erat antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas petani menjadi penting. Dengan kolaborasi yang kuat, dapat menciptakan strategi jangka panjang yang tidak hanya menangani krisis saat ini, tetapi juga mencegah krisis serupa di masa depan. Kesadaran kolektif tentang pentingnya kemandirian pangan dan diversifikasi sumber makanan harus terus ditanamkan dalam setiap lapisan masyarakat.

Jakarta, 21 September 2023

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute dan Ekonom UPN Veteran Jakarta

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Presiden Prabowo
Gagasan

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

JAKARTA,Bisnistoday- Kalimat Presiden Prabowo Subianto, “saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok”, dalam...

Karikatur Obligasi Daerah
Gagasan

Musim Ngutang, Tarik Ulur Penerbitan Obligasi Daerah Pemprov DKI Jakarta

RENCANA Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menerbitkan obligasi daerah kembali memantik perdebatan...

Para pengunjuk rasa menentang AfD (Dok: Clemens Bilan/EPA)
Gagasan

AfD, Trauma Sejarah, dan Demokrasi yang Harus Dijaga

ADA yang menarik dari peta politik Jerman belakangan ini. Selasa, 8 September...

Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Nepal, 26 Agustus 2026 (Dok: NDTV)
Gagasan

Membaca Ramalan di Tengah Bencana

PADA  24 Juni 2026, dua gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,2 SR dan...