www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 7 November 2026
Home GLOBAL Apa yang akan Terjadi Jika Selat Hormuz Kembali Dibuka?
GLOBAL

Apa yang akan Terjadi Jika Selat Hormuz Kembali Dibuka?

Para ahli perkapalan dan perdagangan menilai, jika jalur tersebut kembali beroperasi, gangguan terhadap rantai pasokan global tetap akan terasa lama

Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Social Media

JAKARTA-Bisnistoday: Penutupan efektif Selat Hormuz telah menghambat pasokan sebagian besar energi yang menggerakkan ekonomi global.

Namun, para ahli perkapalan dan perdagangan menilai, jika pun jalur tersebut kembali beroperasi, gangguan terhadap rantai pasok global tetap akan terasa lama karena antrean kapal.

“Ketika perang secara resmi berakhir, itu tidak berarti bahwa gangguan logistik berakhir, karena justru pekerjaan sebenarnya baru saja dimulai,” kata Nils Haupt, direktur senior untuk komunikasi perusahaan di perusahaan pelayaran raksasa Jerman, Hapag-Lloyd.

“Kita akan melihat ratusan kapal yang ingin singgah di pelabuhan-pelabuhan utama di Teluk Persia. Banyak kontainer masuk ke wilayah tersebut, dan kita akan melihat gangguan rantai pasokan yang menuju dan dari Teluk Persia,” kata Haupt kepada Al Jazeera.

Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO) saat ini sekitar 2.000 kapal terdampar di wilayah tersebut di tengah blokade parsial selat oleh Iran. Mereka hanya mengizinkan beberapa kapal dari negara-negara ‘sahabat’ untuk melintas.

“Di antara kapal-kapal tersebut, sekitar 400 kapal berada di Teluk Oman yang berdekatan. Ini menunjukkan bahwa perusahaan pelayaran sedang bersiap untuk menunggu selat beroperasi kembali,” menurut perusahaan intelijen maritim Windward.

Terusan Suez

Sejauh ini, kapal-kapal lain telah mengalihkan rutenya ke Terusan Suez atau menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk melakukan pengiriman ke Asia dan Eropa.

Sejauh ini, Arab Saudi telah mengalihkan pengiriman minyak mereka melalui Laut Merah, melewati selat tersebut.

Svein Ringbakken, direktur pelaksana Asosiasi Risiko Perang Bersama Pemilik Kapal Norwegia, mengatakan bahwa meskipun fasilitas logistik beroperasi dengan kapasitas penuh, akan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan tumpukan minyak, gas, dan barang-barang lain yang turun dari kapal.

Ringbakken mengatakan tugas tersebut menjadi lebih sulit karena serangan yang telah merusak infrastruktur energi dan transportasi di seluruh Timur Tengah.

Menurut Badan Energi Internasional, lebih dari 40 aset energi di seluruh wilayah tersebut telah mengalami kerusakan parah atau sangat parah. Aset0aset tersebut antara lain milik perusahaan minyak dan gas Qatar Energy, Kuwait Petroleum Company, dan Bapco Energies dari Bahrain. Mereka menyatakan keadaan kahar (force majeure) karena gangguan produksi.//

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Para pengunjuk rasa menuntut keringanan utang bagi negara-negara miskin dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok pada Oktober lalu. (dok: Peerapon Boonyakiat/Sopa Images/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Utang Luar Negeri Semakin Mencekik Negara Miskin

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Negara-negara miskin kini semakin sulit untuk berinvestasi untuk masa...

Pemilu Sela di AS (dok: The GuardianSteven Garcia/NurPhoto/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Demokrat Menangi Pemilu Sela di AS, Apa Dampaknya bagi Asia?

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Partai Demokrat berhasil menang telak dalam pemili paruh waktu...

Geoffrey Hinton (dok: University of Toronto)
GLOBALOtomotif & Tekno

Peraih Nobel Geoffrey Hinton Sebut Dunia akan Lebih Baik Tanpa AI

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Serangan siber yang melumpuhkan sejumlah supermarket di Prancis, baru-baru...

Petugas kepolisian berjaga saat api berkobar di Paris pada Minggu malam. Foto: Abdul Saboor/Reuters
GLOBAL

Macron Kecam Aksi Kerusuhan, Mendagri Prancis Dituntut Mundur

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Bentrokan yang berujung kericuhan dan penjarahan mewarnai aksi unjuk...