JAKARTA, Bisnistoday.co.id- ShopeePay dan SPayLater mengumumkan tiga pemenang Kompetisi Desain Batik 2026 bertajuk Corak Cerita Nusantara sebagai bentuk dukungan terhadap perajin batik lokal, umkm, dan kreator.
Tidak hanya menghadirkan layanan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat dalam ekosistem keuangan digital, ShopeePay dan SPayLater juga memberikan dukungan melalui program kompetisi.
Presiden Direktur ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari mengatakan bahwa kompetisi ini merupakan wadah terbuka bagi masyarakat umum untuk menuangkan kreativitas dan inspirasi dalam mengangkat kekayaan sejarah serta budaya Nusantara melalui karya desain batik.
“Kami memaksimalkan kolaborasi dan memberikan ruang, terutama untuk para lokal creator ini untuk membantu mengembangkan usaha mereka. Selain itu, corak Cinta Nusantara ini awalnya berasal dari keinginan kami untuk memiliki satu identitas bersama dengan warisan budaya Indonesia” ujarnya dalam
Melalui proses penilaian oleh karyawan ShopeePay dan SPayLater, tiga desain terpilih sebagai pemenang berdasarkan orisinalitas, narasi budaya, daya tarik visual, serta fleksibilitas penerapannya pada berbagai media.
Desain Batik Kalantara karya Nuraini Farida asal Jawa Timur berhasil meraih juara pertama dengan hadiah sebesar Rp30 juta. Posisi kedua diraih Aisa Amaliya asal Malang melalui desain Kinarya Nuswantara dengan hadiah Rp7 juta. Sementara itu, posisi ketiga ditempati Anggitara Wibowo asal Tangerang melalui desain Nadi Nusantara yang memperoleh hadiah Rp5 juta.
Setiap desain pemenang menghadirkan interpretasi yang khas terhadap warisan budaya Indonesia, dengan inspirasi dari tradisi lokal, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.
Batik Kalantara karya Nuraini Farida mengangkat sejarah perdagangan di Indonesia yaitu sistem barter hingga transaksi digital, motif yang menggambarkan aktivitas perdagangan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

“Saya melakukan riset terlebih dahulu tentang sejarah perdagangan di Indonesia, saya menemukan berbagai hal menarik seperti gobang atau kepeng dan kampua, kain tenun yang pernah digunakan sebagai alat tukar” ujar Aida.
Dalam proses pengerjaannya selama satu minggu, Farida mengumpulkan refenrensi dan mempelajari makna motif, serta menyesuaikannya dengan konsep desain yang ingin dituju. Menariknya, Farida tetap mempertahankan ciri khas batik melalui goresan tangan sebagai komposisi awal, kemudian menggunakan teknik digital untuk memadukan warnanya saja.
Ana Khairani yang telah berkecimpung selama 14 tahun di industri batik, mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi desain batik 2026.
“Kegiatan ini merupakan bentuk eksplorasi terhadap kekayaan cerita Nusantara yang sangat beragam. Indonesia memiliki banyak hal yang dapat diangkat, mulai dari cerita rakyat, hingga filosofi yang kuat dari setiap daerah, kekayaan alam serta budaya,” ujarnya.
Ana menambahkan, batik memiliki potensi penggunaan yang lebih luas dan tidak terbatas pada kebutuhan seragam. Menurutnya, masyarakat perlu semakin memahami nilai dan proses panjang di balik pembuatan batik agar dapat lebih menghargai karya para perajinnya.(alya)








































