JAKARTA, Bisnistoday – Dolar bertahan di level tertinggi dalam dua bulan terakhir menyusul konflik di Timur Tengah yang terus memanas.
Serangan Iran terhadap Kuwait yang merusak bandara dan melukai puluhan orang pada Rabu (3/6/2026) lalu serta serangan militer AS di suatu pulau dekat Selat Hormuz, meredupkan harapan untuk penghentian perang lewat jalur diplomasi.
Ekskalasi konflik ini membuat harga energi tetap melambung dan memengaruhi nilai tukar mata uang di sejumlah negara terhadap dollar. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), Euro berada di US$1,1604, sementara poundsterling Inggris diperdagangkan di US$1,3424. Adapun nilai tukar dolar terhadap rupiah mendekati Rp18.000.
Sementara itu, dolar Australia yang sensitif terhadap risiko tetap stabil di US$0,7132, sedangkan dolar Selandia Baru naik 0,2 persen menjadi US$0,5872 sekaligus pulih dari level terendah selama sepekan terakhir.
Indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap sejumlah mata uang, termasuk yen dan euro, sedikit lebih tinggi di 99,47, setelah mencapai level terkuat sejak 7 April pada sesi sebelumnya.
“Status dolar AS sebagai aset aman tampaknya menguat kembali dengan harga minyak dan imbal hasil global yang pulih akibat ketegangan geopolitik,” kata Sim Moh Siong, ahli strategi valuta asing di OCBC, seperti dilansir Channel News Asia yang mengutip Reuters.
“Tidak ada alasan kuat untuk penurunan dolar AS,” katanya seraya memerkirakan dolar AS akan stabil dalam kisaran terbatas.
Dari sisi data, survei pada Rabu lalu menunjukkan ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis jasa AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir bulan lalu, memperkuat pandangan para ekonom bahwa Federal Reserve (Bank Sentral AS) akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, hingga tahun depan.
Yen Jepang
Sementara itu, Yen Jepang diperdagangkan pada 159,91 per dolar, pulih dari titik terendah pada Rabu lalu yang mendorongnya melewati angka kritis 160 per dolar untuk pertama kalinya sejak 30 April.
Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, mengatakan bank sentral harus membahas pro dan kontra kenaikan suku bunga jika risiko inflasi lebih besar daripada risiko ekonomi negatif.
“Dia (Kazio) telah menyiapkan sebaik mungkin pada tahap ini meskipun tidak secara eksplisit mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini,” tulis Naohiko Baba, kepala riset Jepang dan kepala ekonom Jepang di Barclays.//

