www.bisnistoday.co.id
Rabu , 29 Juli 2026
Home EKONOMI Pengamat Perbankan : Kenaikan BI Rate Menjadi 5,75 Persen Sebagai Langkah Antisipatif
EKONOMIPerbankan & Asuransi

Pengamat Perbankan : Kenaikan BI Rate Menjadi 5,75 Persen Sebagai Langkah Antisipatif

Bank Indonesia
GEDUNG Bank Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk mengakselerasi BI Rate naik 25 bps ke level 5.75 persen sebagai langkah dinamis yang optimal. Kenaikan BI Rate juga dibarengi dengan mempeketat arus pertukaran mata uang Dollar AS.

“Kesan kuat terlihat bahwa BI sungguh ahead the curve, forward looking dan antisipatif,” ungkap Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto di Jakarta, Kamis (18/6).

Seperti diketahui, RDG BI memutuskan untuk menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75 persen,  disertai dengan pembatasan pembelian dolar AS maksimal 10 ribu dolar AS. Keputusan BI Ini, menurut Ryan, sudah sesuai ekspektasi para ekonom, analis dan pelaku pasar.

“Putusan ini, menunjukkan stance BI yang hawkish, preemptive dan antisipatif dalam rangka mencapai tujuan utama, yakni menstabilkan kurs rupiah terhadap dolar AS,” urainya.

Menurut Ryan, tentu keputusan tersebut sudah melalui asesmen terkini dan terkonfirmasi dengan presisi bahwa inilah saatnya BI harus bertindak lebih agresif untuk “menjinakkan dolar AS”walau sebenarnya, FOMC The Fed menahan Fed Rate tetap di level 3,5-3,75 persen.

“Harapannya pelaku bisnis, perbankan dan pasar modal bisa memahami langkah agresif BI tersebut dan tidak over-reactive bahkan panik karena saat ini upaya stabilisasi rupiah dan inflasi ke depan menjadi target prioritas BI (tagline; stability over growth).”

Ryan Kiryanto menambahkan, yang diperlukan adalah sikap tenang dan terkendali dari semua unsur pemangku kepentingan karena situasi dan kondisi saat ini secara rasional obyektif membutuhkan “langkah extraordinary” yang sifatnya temporer dari BI sebagai otoritas moneter.

“Harapannya BI rate dapat turun lagi ke kisaran 4,5-5,0% sekiranya tekanan eksternal (perang di Iran) dan sentimen negatif memudar disertai normalisasi harga minyak dunia ke kisaran 70-72 dolar per barel,” urainya.

Untuk itu, tambah Ryan Kiryanto, kebijakan fiskal harus lebih akomodatif (ekspansi terkendali) untuk tetap dapat menjaga momentum pertumbuhan. Realokasi dan refocusing anggaran memungkinkan dilakukan untuk penajaman alokasi anggaran supaya lebih efektif, efisien, tepat sasaran dan produktif.

“Koordinasi otoritas moneter dan fiskal tetap terus dijaga supaya kepercayaan publik dan pasar dapat dijaga disertai komunikasi yang ramah pasar.”/

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menteri LH Ajak Koperasi Masuk Pasar Karbon

JAKARTA, Bisnistoday — Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto secara konsisten...

Presiden AS Donald J Trump.
EKONOMIKawasan Global

Trump akan Terapkan Tarif Baru pada Lebih dari 80 Negara

JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat akan mengenakan tarif antara 10% atau 12,5%...

PT Asuransi BRI Life dan Bali International Hospital (BIH) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara sektor asuransi jiwa dan layanan kesehatan. (dok:BRIlife)
Perbankan & Asuransi

BRI Life dan Bali International Jalin Kemitraan Strategis

JAKARTA, Bisnistoday - PT Asuransi BRI Life dan Bali International Hospital (BIH)...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Pastikan Arah Penguatan Koperasi Saat Dialog dengan Penggerak Koperasi di Pamekasan

PAMEKASAN, Bisnistoday – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono memberikan arahan sekaligus berdialog...