Jakarta, Bisnistoday – Unilever Indonesia melalui Pepsodent kembali menggelar Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN). Tahun ini BKGN 2026 berfokus mengedepankan pentingnya menjaga keseimbangan microbiome mulut dan diresmikan melalui kegiatan edukasi serta pemeriksaan gigi bagi siswa-siswi SDN Menteng 01 Jakarta.
Selanjutnya, bekerja sama dengan AFDOKGI dan ARSGMPI, BKGN 2026 akan dilaksanakan di 29 FKG dan RSGMP di berbagai wilayah Indonesia sehingga masyarakat menjadi lebih dekat dengan akses pelayanan tenaga profesional. Bersama PB PDGI, BKGN 2026 juga akan memberikan edukasi yang berfokus di enam kota/kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah daerah yang terdampak bencana, yaitu Nusa Tenggara Timur dan Papua.
Ratu Mirah Afifah, Personal Care Community Lead Unilever Indonesia menyampaikan bahwa, semangat HKGN 2026 sangat sejalan dengan misi dari BKGN, di mana setiap tahunnya memberikan akses edukasi, pemeriksaan dan perawatan gigi gratis secara berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami ingin mengangkat paradigma baru mengenai pentingnya perlindungan ekstra dalam merawat kesehatan gigi dan mulut, yaitu dengan menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai awal dari kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh,” ungkapnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut data mengenai gaya hidup, tercatat 47,5% masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari, dan meskipun 95,6% masyarakat menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2% yang melakukannya di waktu yang tepat. Bahkan saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2% masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam 1 tahun.
Berbagai faktor ini antara lain menyebabkan 57% penduduk Indonesia usia 3 tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Untuk itu, dibutuhkan pemahaman lebih dalam mengenai kesehatan gigi dan mulut, khususnya pentingnya keseimbangan microbiome mulut.
Suryono, Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) menerangkan lebih lanjut bahwa, rongga mulut merupakan komunitas mikroba terbesar kedua dalam tubuh manusia dan memiliki ekosistem yang dihuni oleh lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang disebut sebagai microbiome mulut.
“Layaknya pada usus, microbiome mulut terdiri dari bakteri baik dan bakteri yang berpotensi merugikan. Maka, seiring berkembangnya ilmu kesehatan gigi dan mulut, tujuan perawatan yang lebih tepat bukanlah menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, melainkan menjaga keseimbangan microbiome mulut. Karena ketika keseimbangannya terganggu atau mengalami dysbiosis, bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai permasalahan gigi dan mulut,” ungkapnya.
Masalah tersebut misalnya seperti pembentukan plak. Ketika plak terus terakumulasi dan lingkungan di dalamnya berubah, hal itu dapat menguntungkan kelompok bakteri tertentu. Pada gigi berlubang, konsumsi gula yang terlalu sering dapat membuat bakteri menghasilkan asam secara berulang, sehingga lingkungan rongga mulut menjadi semakin asam dan menyebabkan demineralisasi enamel hingga akhirnya terbentuk karies.
Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons inflamasi tubuh sehingga menimbulkan radang gusi, baik itu gingivitis hingga periodontitis. Selain itu, masalah bau mulut pun berkaitan dengan aktivitas bakteri yang memecah berbagai substrat di rongga mulut dan menghasilkan senyawa sulfur volatil yang memiliki aroma tidak sedap.
Agar terhindar dari masalah-masalah tersebut, A. Tajrin, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) menjelaskan bahwa, menjaga keseimbangan microbiome mulut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui perawatan yang tepat, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut.
“Hindari rokok, kelola stres dan cukup tidur tidak kalah penting, selanjutnya, rutin konsultasi ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali agar berbagai permasalahan yang dapat mengganggu keseimbangan microbiome mulut dapat dideteksi dan ditangani sejak dini,” tuturnya./








































