www.bisnistoday.co.id
Kamis , 24 September 2026
Home NASIONAL & POLITIK Lingkungan Dorong Telur Cage-Free di Jawa Barat, AFFA Soroti Kesejahteraan Ayam Petelur
Lingkungan

Dorong Telur Cage-Free di Jawa Barat, AFFA Soroti Kesejahteraan Ayam Petelur

Saat ini, lebih dari 90% sistem peternakan ayam petelur di Indonesia masih menggunakan kandang baterai. Sistem ini menempatkan ayam dalam kandang-kandang kecil yang disusun berjajar atau bertingkat. Ruang gerak ayam menjadi terbatas sehingga sejumlah perilaku alaminya, seperti mengepakkan sayap, bertengger, dan bergerak leluasa, tidak dapat dilakukan secara optimal.
Social Media

BANDUNG, Bisnistoday – Act for Farmed Animals (AFFA) mendorong pengembangan sistem produksi telur cage-free atau telur bebas kandang di Jawa Barat dengan tetap mempertimbangkan kesiapan peternak, kebutuhan pasar, dan keberlanjutan usaha.

Jawa Barat memiliki posisi strategis dalam rantai pasok telur nasional. Pada 2025, produksi telur di Jawa Barat mencapai sekitar 714 ribu ton dengan populasi ayam petelur sekitar 48,2 juta ekor.

Besarnya produksi tersebut dinilai membuka peluang bagi Jawa Barat untuk mengembangkan sistem produksi telur yang lebih memperhatikan kesejahteraan ayam petelur.

Direktur Pelaksana Act for Farmed Animals (AFFA), Arie Rostika Utami, mengatakan saat ini lebih dari 90% sistem peternakan ayam petelur di Indonesia masih menggunakan kandang baterai.

Dalam sistem tersebut, ayam ditempatkan dalam kandang dengan ruang terbatas sehingga pergerakannya menjadi lebih terbatas.

“Kalau kita melihat kandang baterai, ayam ditempatkan di ruang yang sangat terbatas. Kurang lebih ukurannya seperti kertas A4. Ayam masih bisa berdiri dan bergerak, tetapi tidak bisa melakukan aktivitas alaminya seperti mengepakkan sayap atau bergerak dengan leluasa,” ujar Arie.

Menurut dia, sistem cage-free memberikan ruang yang lebih luas bagi ayam untuk bergerak dan melakukan perilaku alaminya.

“Yang kami kampanyekan adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan ayam dengan tidak menempatkannya di kandang yang sempit. Ayam seharusnya berada di lingkungan yang lebih luas, bisa bergerak, mendapatkan pakan dan air yang layak, serta diperhatikan kesejahteraannya,” katanya.

Kesehatan Ayam Jadi Perhatian

Arie mengatakan pengembangan cage-free tidak hanya berkaitan dengan ruang gerak ayam, tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan dan pengelolaan peternakan.

Sejumlah penelitian, kata dia, menunjukkan ayam dalam sistem bebas kandang dapat memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dan kebutuhan penggunaan obat yang lebih rendah apabila dikelola dengan baik.

“Ketika ayam lebih sehat, kebutuhan pengobatan juga bisa lebih rendah. Saya sering berbicara dengan peternak dan ada yang mengatakan tidak banyak menggunakan obat karena ayamnya memang dikelola dengan baik,” ujar Arie.

Namun, penerapan cage-free juga memiliki risiko yang perlu dikelola peternak. Karena ayam bergerak dan beraktivitas bersama dalam ruang yang lebih luas, penyakit dapat lebih cepat menyebar apabila manajemen kesehatan tidak dilakukan dengan baik.

“Kalau satu ayam terkena penyakit, penularannya bisa lebih cepat dan jumlah ayam yang terdampak bisa banyak. Karena itu, peternak cage-free harus benar-benar memperhatikan pakan, air, kebersihan sampai aktivitas ayam,” katanya.

Aktivitas ayam yang lebih tinggi juga membuat kebutuhan pakan perlu diperhitungkan. Menurut Arie, ayam yang lebih aktif membutuhkan energi lebih banyak sehingga aspek tersebut perlu masuk dalam perhitungan usaha peternakan.

Jawa Barat Punya Peluang Pasar

Di sisi pasar, AFFA melihat peluang pengembangan telur cage-free di Jawa Barat cukup terbuka. Salah satunya karena Jawa Barat menjadi salah satu pemasok telur untuk Jakarta.

Jakarta memiliki banyak hotel, restoran, dan sektor HORECA, sementara produksi telur di wilayah tersebut relatif terbatas. Kondisi itu membuat Jawa Barat berpeluang menjadi pemasok telur cage-free untuk Jakarta dan wilayah Jawa lainnya.

“Jawa Barat punya potensi besar karena menjadi salah satu pemasok telur untuk Jakarta. Di Jakarta banyak hotel, restoran dan sektor HORECA, sementara produksi telurnya terbatas,” kata Arie.

AFFA mencatat sudah ada sekitar enam peternakan di Jawa Barat yang mengembangkan sistem cage-free. Jumlah tersebut masih terbatas dibandingkan dengan kebutuhan pasar.

Di tingkat perusahaan, AFFA juga mencatat hampir 130 perusahaan yang beroperasi di Indonesia telah memiliki komitmen untuk mulai bertransisi menggunakan telur cage-free.

Arie menjelaskan komitmen tersebut tidak berarti perusahaan harus langsung menggunakan 100% telur cage-free. Perusahaan dapat menetapkan target secara bertahap sesuai kesiapan rantai pasok.

“Komitmen itu tidak berarti langsung 100% menggunakan telur cage-free. Biasanya perusahaan membuat target secara bertahap dan dalam beberapa tahun menuju penggunaan 100% telur cage-free,” ujarnya.

Namun, harga masih menjadi salah satu tantangan. Saat ini, harga telur cage-free disebut sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan telur konvensional. Salah satu penyebabnya adalah jumlah pemasok yang masih terbatas.

Karena itu, pengembangan produksi perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan permintaan agar terbentuk rantai pasok telur cage-free yang lebih kuat.

Sebelumnya, Animal Welfare Specialist Animal Friends Jogja, Puji Rahayu, mengatakan sistem cage-free dapat memberikan ruang gerak lebih luas bagi ayam petelur untuk mengekspresikan perilaku alaminya.

“Sistem cage-free dapat memberi ruang gerak lebih luas bagi ayam petelur dalam mengekspresikan perilaku alaminya serta mengurangi penderitaan mereka sehingga berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan hewan,” jelas Puji.

Di sisi lain, transisi sistem produksi membutuhkan investasi dan kesiapan teknis. Kapasitas peternak juga beragam sehingga penerapannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh usaha peternakan.

Arie mengatakan perubahan sistem dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus langsung mengganti seluruh fasilitas yang dimiliki peternak.

“Jadi enggak langsung mengganti kandang lama, beli baru semua. Pengembangan sistem cage-free dapat dilakukan secara bertahap. Beberapa peternak yang sudah transisi biasanya menunggu kandang lama sampai rusak dan tidak bisa dipakai, baru pelan-pelan diganti ke model cage-free,” katanya.

Edukasi Konsumen dan Keamanan Pangan

Selain mendorong perubahan di tingkat perusahaan dan peternakan, AFFA mulai memperluas edukasi kepada masyarakat.

Menurut Arie, isu kesejahteraan ayam petelur masih relatif jarang dibicarakan karena masyarakat lebih sering melihat telur sebagai produk pangan yang sudah siap dikonsumsi.

AFFA sebelumnya menggelar pameran mengenai kehidupan ayam dalam kandang baterai selama tiga hari. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 350 orang, termasuk perwakilan kementerian serta dinas dari Jawa Barat dan Jakarta.

AFFA juga mulai berdiskusi dengan jurnalis dan kampus, termasuk melalui kegiatan di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), serta menyiapkan program bootcamp bagi relawan dan mahasiswa.

“Isu ini sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat karena ada di meja makan, hanya saja selama ini tidak terlihat,” ujar Arie.

Edukasi tersebut juga berkaitan dengan kualitas dan keamanan pangan. Masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas, misalnya, cenderung mempertimbangkan harga ketika membeli telur sehingga belum tentu mengetahui sistem produksi telur yang dibelinya.

Arie juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi telur ketika membeli.

“Telur yang sudah pecah memiliki risiko kontaminasi bakteri dan perlu mendapat perhatian dari sisi keamanan pangan,” katanya.

Menurut dia, pembahasan mengenai telur cage-free pada akhirnya tidak hanya menyangkut kesejahteraan hewan, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami kualitas makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Pengembangan kesejahteraan hewan juga mendapat momentum dari terbitnya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Kesejahteraan Hewan yang ditetapkan pada 1 Desember 2025 dan diundangkan pada 4 Desember 2025.

Regulasi tersebut memberikan kerangka mengenai penerapan prinsip kesejahteraan hewan dalam kegiatan peternakan.

Dalam prinsip Lima Kebebasan atau Five Freedoms, kesejahteraan hewan mencakup kebebasan dari rasa lapar dan haus, rasa tidak nyaman, rasa sakit, luka dan penyakit, kesempatan mengekspresikan perilaku alami, serta bebas dari rasa takut dan tertekan.

Bagi AFFA, regulasi tersebut dapat menjadi salah satu momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap cara produksi telur dan kondisi ayam petelur.

Arie mengatakan pengembangan sistem produksi telur berbasis kesejahteraan hewan membutuhkan keterlibatan pemerintah, peternak, pelaku usaha, hingga konsumen.

“Jawa Barat memiliki peluang untuk mengembangkan sistem produksi telur yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan. Namun, prosesnya membutuhkan kolaborasi dan dilakukan secara bertahap agar tetap inklusif serta berdaya saing,” tutur Arie.

Dengan produksi telur yang besar dan kedekatan dengan pasar Jabodetabek, Jawa Barat memiliki peluang untuk memperluas produksi cage-free. Namun, pengembangannya tetap perlu berjalan bersama kesiapan peternak, kesehatan ayam, investasi, harga, ketersediaan pemasok, edukasi konsumen, serta keamanan pangan.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Lingkungan

Dari Abu Bakar ke Pupuk Organik: Transformasi Petani Hutan Binaan JTB di Bandungrejo

BOJONEGORO, Bisnistoday – Di balik kokohnya fasilitas operasi gas Jambaran–Tiung Biru (JTB)...

Lingkungan

Ubah Sampah Jadi Berkah: Warga Bojonegoro Sukses Bayar PBB dan Produksi BBM Pertasol

BOJONEGORO, Bisnistoday – Persoalan sampah seringkali menjadi tantangan pelik di kawasan padat...

Lingkungan

Dari Daun Kelor hingga Solar Panel: Cara JTB Zona 12 Merajut Ekonomi dan Lingkungan di Bojonegoro

BOJONEGORO, Bisnistoday- PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 melalui proyek Jambaran...

Kerja Sama IATPI
Lingkungan

Fokus Peningkatan Kualitas Konsultan, IATPI dan INKINDO DKI Jakarta Sepakati MOU Strategis

JAKARTA, Bisnistoday - Permintaan jasa konsultan teknik lingkungan terus melonjak tajam! Tak...