BOJONEGORO, Bisnistoday – Di balik kokohnya fasilitas operasi gas Jambaran–Tiung Biru (JTB) di Bojonegoro, ada potret buram yang selama ini membayangi. Sebagian besar petani hutan yang menggantungkan hidup dari lahan garapan di sekitar area Gas Processing Facility (GPF) PEPC JTB, masih terjebak dalam praktik pertanian yang berisiko tinggi.
Andes Tara Putra, pendamping program petani hutan JTB, mengungkap tiga persoalan klasik yang dihadapi.
“Sebagian besar petani hutan di area GPF PEPC JTB Jambaran–Tiung Biru menggantungkan hidup dari lahan garapan di hutan,” kata Andes.
Fakta di lapangan, kata dia, masyarakat masih melakukan praktik pembakaran saat membuka lahan dan membakar limbah pertanian selepas panen. Praktik ini sangat berisiko karena berdekatan langsung dengan fasilitas operasi gas bertekanan tinggi milik perusahaan.
Persoalan kedua adalah ketergantungan berlebihan pada pupuk kimia.”Petani hutan menggunakan pupuk kimia secara berlebihan sehingga menurunkan kesuburan tanah, hama menjadi kebal, dan ketergantungan pada utilitas pupuk kimia semakin tinggi,” jelasnya.
Persoalan ketiga, petani hanya bertani secara monokultur jagung. Saat panen raya tiba, harga anjlok dan petani merugi.
Berangkat dari masalah itu, PEPC Zona 12 mendorong sebuah inovasi sosial yang mengubah limbah menjadi berkah, melalui wadah Koperasi Produsen Rimba Tani.
Limbah Jadi Emas
Inovasi kuncinya adalah mengubah pola pikir: limbah pertanian bukan dibakar, tapi diolah.
“Engolahan limbah pertanian menjadi kompos dan media tanam. Demoplot pertanian hortikultura organik sebagai alternatif solusi praktik pertanian konvensional yang bersifat monokultur dan bergantung pada pupuk kimia,” ujar Andes.
Jika dulu jerami, bonggol jagung, dan kotoran ternak dibakar dan menjadi polusi, kini semua dikumpulkan di rumah kompos milik koperasi. Diolah dengan metode fermentasi, limbah itu menjadi pupuk organik dan media tanam yang subur dan bernilai jual.
Tak hanya itu, untuk memutus rantai monokultur jagung, tim pendamping membuat demoplot pertanian hortikultura organik. Petani diajari menanam cabai, tomat, terong, dan sayuran lain dengan sistem organik tanpa kimia.
Hasilnya, tanah kembali subur, biaya produksi turun drastis karena tidak perlu beli pupuk kimia mahal, dan petani punya penghasilan alternatif di luar musim jagung.
Untuk memastikan usaha ini berkelanjutan, dibentuklah kelembagaan ekonomi yang kuat: Koperasi Produsen Rimba Tani.
“Kelembagaan koperasi produsen untuk memperkuat unit usaha dan rantai pasok hulu-hilir pertanian,” tegas Andes.
Empat Unit Usaha yang Saling Menguatkan
Kini, koperasi yang berlokasi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro ini memiliki empat kegiatan komunitas utama yang saling terhubung dalam satu siklus ekonomi sirkular.
1. Produksi Kompos & Media Tanam: Menjadi hulu dari semua kegiatan.
2. Pertanian Hortikultura: Menjadi bukti bahwa pupuk organik mereka berhasil.
3. Ternak Domba: Kotoran domba menjadi bahan baku kompos, dagingnya menjadi tabungan.
4. Pengeringan Jagung: Menjawab masalah kerentanan harga. Jagung tidak lagi harus dijual basah saat panen raya dengan harga murah, tapi bisa dikeringkan, disimpan, dan dijual saat harga membaik.
“Semua kegiatan ini berlokasi di Desa Bandungrejo, dengan kelembagaannya Koperasi Produsen Rimba Tani,” kata Andes.
Dulu, asap pembakaran lahan menjadi ancaman bagi fasilitas gas nasional. Kini, dari desa yang sama, asap itu hilang berganti aroma kompos dan hijaunya kebun hortikultura organik. Petani hutan tidak lagi menjadi risiko, melainkan menjadi mitra penjaga ketahanan energi dan pangan./



















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)






















