JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Kabar baik datang dari neraca perdagangan Indonesia. Setelah sempat nyaris defisit, perdagangan Indonesia kembali tancap gas. Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri mengatakan, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD 3,6 miliar pada Agustus 2026, meningkat tajam dari hanya USD 0,1 miliar pada Juli 2026 dan menjadi yang tertinggi tahun ini.
“Ekspor naik 6,7% YoY menjadi USD 26,6 miliar, level tertinggi dalam empat tahun, sementara impor termoderasi menjadi USD 23,1 miliar,” ungkap Novani, Rabu (1/10).
Lonjakan ini ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 7,2% YoY, terutama dari sektor manufaktur yang melesat 12,5% YoY. Impor sendiri turun di semua kelompok pada Agustus, barang konsumsi turun 6,0% MoM, bahan baku 11,1%, dan barang modal 16,0%, setelah sempat melonjak di Juli.
Hanya saja, Buffer Eksternal Menipis, dibalik angka surplus yang kinclong di Agustus, ada pekerjaan rumah besar.Secara kumulatif, surplus Januari hingga Agustus 2026 hanya USD 7,3 miliar, anjlok 75,3% YoY. Penyebabnya, impor melonjak 19,8% YoY, atau jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 4,7%. “Sehingga buffer eksternal Indonesia menipis signifikan,” tegas Novani.
Fakta lain yang mengkhawatirkan, menurut Novani, ekspor komoditas andalan seperti besi baja, CPO, dan batu bara memang naik nilainya masing-masing 4,9%, 6,6%, dan 4,3% YoY, tetapi volumenya justru turun 5,1%, 0,4%, dan 9,3%.”Harga yang menguntungkan telah mengompensasi sebagian pelemahan volume, sehingga penerimaan ekspor komoditas tetap rentan apabila harga kembali turun,” jelasnya.
Novasi memprediksi bahwa September akan tetap surplus hanya menyempit. Rupiah masih bakal menghadapi tekanan kedapan, Mirae Asset memperkirakan surplus perdagangan akan kembali menyempit pada September. Pasalnya, pergerakan harga komoditas kurang menguntungkan. Brent melonjak 14,4% MoM, sementara CPO turun 5,7%, nikel 5,5%, dan timah 1,9%.
Di sisi lain, tambah Novasi, pelemahan Rupiah -1,0% MoM dan tingginya kebutuhan input impor menjadi tekanan ganda.”Pelemahan harga dan volume ekspor dapat menekan penerimaan, sementara kenaikan harga minyak meningkatkan tagihan impor energi. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda terhadap neraca perdagangan serta mengurangi buffer bagi transaksi berjalan dan Rupiah memasuki 4Q26,” papar Novani./









































