Press "Enter" to skip to content

Akhir Pekan IHSG dan Kurs Rupiah Melemah Tipis

IHSG pada perdagangan Senin (26/4) kembali terkoreksi

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/4) melemah tipis 1,52 poin atau 0,02 persen ke posisi 6.070,21. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,12 poin atau 0,01 persen ke posisi 906,49.

Menurut Analis Philip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr di Jakarta, Jumat (9/4)  pelemahan IHSG diberatkan oleh pelemahan lanjutan di akhir-akhir sesi dari saham UNVR, INKP, ANTM, TLKM BRPT dan MDKA. Pelemahan IHSG juga sejalan dengan mayoritas indeks saham di Asia sore ini yang ditutup turun setelah data inflasi China memperdalam kekhawatiran atas inflasi global.

Dipicu oleh lonjakan harga komoditas, Producer Price Index (PPI) China tumbuh 4,4 persen (yoy) pada Maret, tercepat sejak Juli 2018, setelah naik 1,7 persen (yoy) Februari.

Setelah berbulan-bulan mengalami deflasi, PPI mulai menanjak naik tahun ini seiring dengan naiknya harga minyak mentah, tembaga dan komoditas agrikultur.

Sebagai negara eksportir terbesar di dunia, kenaikan harga di level pabrikan (produsen) di China akan memicu inflasi di seluruh dunia. Padahal ancaman inflasi sudah cukup tinggi akibat pemulihan ekonomi global yang lebih cepat dari perkiraan, aliran dana stimulus ekonomi dari pemerintah di seluruh dunia serta tingginya harga pengiriman (shipping cost).

Di tingkat konsumen, inflasi atau Consumer Price Index atau CPI) tumbuh 0,4 persen (yoy) setelah deflasi selama dua bulan beruntun. Meskipun CPI di yakini akan terus merangkak naik, namun pemulihan belanja rumah tangga yang berjalan lamban memberi indikasi laju inflasi masih akan tetap rendah. Inflasi inti atau core CPI tumbuh 0,3 persen (yoy).

Dari dalam negeri, data Bank Indonesia memberikan indikasi berlanjutnya perbaikan keyakinan konsumen atas kondisi ekonomi nasional. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Maret berada di level 93.4, naik dari level 85.8 (Februari) dan level 84.9 (Januari).

“Perbaikan kepercayaan ini didorong oleh program vaksinasi nasional yang sejauh ini dilihat berjalan lancar,” ujar Philip.

Dibuka menguat, IHSG relatif nyaman berada di zona hijau namun di menit-menit akhir perdagangan ditutup melemah tipis.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor terkoreksi dimana sektor barang baku turun paling dalam yaitu minus 1,98 persen, diikuti sektor properti & real estat dan sektor transportasi & logistik masing-masing minus 1,13 persen dan minus 1,06 persen.

Empat sektor meningkat dimana sektor kesehatan naik paling tinggi yaitu 0,92 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor teknologi masing-masing 0,75 persen dan 0,46 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau “net foreign sell” sebesar Rp33,01 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.220.771 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,22 miliar lembar saham senilai Rp10,18 triliun. Sebanyak 212 saham naik, 266 saham menurun, dan 165 saham tidak bergerak nilainya.

Rupiah Pun Melemah

Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan ditutup melemah dipicu kembali naiknya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat.

Rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.565 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.535 per dolar AS.

“Akhir pekan ini dolar Amerika mengalami penguatan tidak lepas karena kembali naiknya imbal hasil obligasi AS yang sempat bergerak turun di sesi perdagangan kemarin,” kata Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin. Untuk prospek pada minggu depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi imbal hasil (yield) obligasi AS, rilis data penjualan ritel AS, data inflasi, data PDB Inggris dan China.

Hal-hal tersebut, lanjut Nanang, kemungkinan besar akan membuat rupiah berfluktuasi secara signifikan, ditambah lagi pasar berekspektasi terhadap pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat.

“Dan ini masih menjadi sebuah kekhawatiran pasar terhadap pemburuan yield obligasi AS yang masih akan terus terjadi karena ekspektasi pemulihan ekonomi,” ujar Nanang./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *