JAKARTA-Bisnistoday: Sebuah studi pada jurnal penelitian lingkungan, Health, Selasa (10/3/2026) menyebutkan panas ekstrem kini memengaruhi satu dari tiga orang di seluruh dunia,.
Studi itu menyatakan, peningkatan suhu akibat pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlanjut, membuat bahkan banyak orang dewasa muda dan sehat kesulitan melakukan aktivitas fisik dasar, seperti menyapu atau menaiki tangga.
Menurut penelitian itu perubahan iklim telah mengurangi waktu yang dapat dihabiskan orang untuk menjalani kehidupan mereka dengan aman. Saat ini, sepertiga populasi dunia tinggal di daerah di mana panas sangat membatasi aktivitas.
Keterbatasan ini berdampak lebih besar bagi orang lanjut usia. Mereka memiliki kemampuan lebih rendah untuk berkeringat sehingga kesulitan mengontrol suhu tubuh mereka.
Penelitian itu menggabungkan studi fisiologis tentang toleransi panas dengan data global dan regional,selama tujuh dekade tentang populasi, suhu, dan pembangunan manusia.
Laporan tersebut rata-rata menemukan orang berusia di atas 65 tahun sekarang mengalami sekitar 900 jam setiap tahun ketika panas sangat membatasi aktivitas luar ruangan yang aman. Sedangkan pada 1950, selama 600 jam. Ini setara dengan lebih dari satu bulan waktu siang hari.
“Yang paling terdampak adalah mereka yang tinggal di negara atau wilayah miskin, meskipun mereka jauh lebih sedikit bertanggung jawab atas kerusakan iklim daripada konsumen kaya yang gaya hidupnya menghasilkan emisi gas rumah kaca,’’ kata laporan tersebut.
Tantangan terberat
Pra ilmuwan dari Nature Conservancy yang memimpin studi ini menyatakan beberapa wilayah tropis dan subtropis, panas yang kelewat ekstrem telah membatasi aktivitas luar ruangan bagi orang dewasa yang lebih tua selama seperempat hingga sepertiga tahun.
Menurut para peneliti, mereka yang tinggal di Asia barat daya (Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Irak, Oman), Asia selatan (Pakistan, Bangladesh, India), dan sebagian Afrika barat (Mauritania, Mali, Burkina Faso, Senegal, Djibouti dan Nigeria), menghadapi tantangan yang paling berat.
Di dalam suatu negara terdapat variasi yang sangat besar berdasarkan kondisi geografi, kelompok pendapatan, dan jenis pekerjaan. Di India, misalnya, keterbatasan paling terasa di Dataran Indo-Gangga dan dataran rendah timur, dan paling tidak terlihat di Ghat Barat dan kaki bukit Himalaya.
Sementara itu, di Amerika Selatan, orang-orang di lembah Amazon jauh lebih rentan daripada di dataran tinggi Andes. Di banyak negara Teluk, orang kaya dapat mengurangi risiko dengan pendingin ruangan. Sementara pekerja migran miskin terpapar tingkat radiasi matahari yang berbahaya di lokasi konstruksi dan saat melakukan pekerjaan luar ruangan lainnya.
Peneitian ini lebih mendalam dari penelitian sebelumnya tentang risiko panas global dengan memeriksa kapasitas sosial dan fisiologis untuk beradaptasi dengan panas.//









































