JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengingatkan kerasnya tantangan energi nasional di tengah kondisi geopolitik dunia yang tak menentu.
Hal itu disampaikan Bahlil saat membuka The 3rd Forum Exploration (Forex) 2026 yang digelar PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Jakarta, Selasa (28/10).
Menurut Bahlil, semua pimpinan sektor energi dunia saat ini sedang pusing memikirkan kapan gejolak geopolitik akan berakhir. Perang Ukraina sudah berjalan lebih dari 2 tahun, konflik Israel-Palestina tak kunjung selesai, ditambah ketegangan Amerika Serikat-Iran hingga konflik terbaru Arab Saudi dengan Houthi.
“Kondisi sekarang memaksa semua negara untuk memproteksi kebutuhan masing-masing. Tidak heran, perang di Timur Tengah dampaknya ke mana-mana, termasuk ekonomi Indonesia,” ujar Bahlil.
Dari Eksportir Jadi Importir
Bahlil mengenang masa keemasan migas Indonesia. Dulu, Indonesia pernah memproduksi minyak hingga 1,5 juta barel per hari (bph), sementara kebutuhan dalam negeri hanya 500 ribu bph. Sisanya sekitar 1 juta bph bisa diekspor. Saat itu, 40-43 persen pendapatan APBN bersumber dari migas.
Namun dalam 10 tahun terakhir, trennya terus turun. Produksi terakhir hanya mampu mencapai 605 ribu bph, padahal kebutuhan nasional sudah melonjak menjadi 1,7 juta bph. Akibatnya, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta bph.
“Produksi B50 memang bisa mengurangi impor sekitar 300 ribu barel, sehingga impor minyak kita masih sekitar 750 ribu barel per hari. Tapi ini belum cukup,” jelasnya.
Pemerintah kini berpikir keras bagaimana cara meningkatkan lifting migas. Masalahnya, banyak sumur di Indonesia sudah tua, ibarat manusia sudah senja, tinggal menunggu zikir.
“Kalau mau lari kencang, tapi tidak didukung teknologi atau vitamin, akan berat. Kita butuh inovasi teknologi dan insentif agar IRR (tingkat pengembalian investasi) terjaga, supaya lifting bagus,” tegas Bahlil.
Ia meminta semua Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang sudah mengantongi konsesi dan Plan of Development (POD) untuk segera eksekusi, jangan ditunda-tunda.
“Sekarang prospek minyak bagus, orang lebih cari minyak ketimbang emas. Karena minyak juga banyak ketegangan di Asia Tenggara. Jadi harus betul-betul lakukan kolaborasi yang baik,” katanya.
PHE Jadi Garda Terdepan
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Sunaryanto, mengatakan Forex 2026 menjadi wadah kolaborasi penting antara pemerintah, stakeholder, dan pelaku industri untuk memperkuat iklim investasi.
“Forex sebagai wadah kolaborasi, perkuat iklim investasi, komersialisasi, dan dorong lifting,” ujar Sunaryanto.
Sebagai host, PHE menggelar Forex 2026 pada 28-29 Oktober 2026 dengan menghadirkan 1.100 peserta dari KKKS, asosiasi hulu migas, industri global, kementerian, lembaga profesional, hingga pelaku industri.
“Kami menghadirkan 40 narasumber baik dalam maupun luar negeri, regulator, investor, dan pelaku industri. Membahas daya saing investasi, fiskal, hingga akses pembiayaan,” jelasnya.
Antusiasme peserta, kata dia, di luar dugaan. Diharapkan dari forum ini lahir rekomendasi kebijakan dan langkah konkret bagi pengembangan hulu migas nasional.
“PHE mengemban amanah sebagai garda terdepan migas nasional. Hasil kolaborasi ini, sampai tahun ini kita bisa menaikkan lifting dan monetisasi sumur dengan baik. Momentum ini untuk ketahanan energi masa depan,” pungkas Sunaryanto./







































