JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong utilisasi industri nasional naik dari hampir 70 persen saat ini menjadi 80 persen, bahkan hingga 85 persen jika memungkinkan. Menurutnya, peningkatan utilisasi dari kapasitas produksi yang sudah tersedia saja dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Utilisasi industri kita saat ini baru hampir 70 persen. Ini akan terus kita dorong agar bisa mencapai 80 persen, bahkan kalau memungkinkan hingga 85 persen. Dengan meningkatkan utilisasi dari kapasitas yang sudah tersedia saja, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi dan PDB nasional akan sangat signifikan,” kata Sarmuji seusai menerima kunjungan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (26/10).
Menurut Sarmuji, momentum positif sektor manufaktur perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kapasitas produksi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global naik dari 49,8 pada Agustus 2026, yang berarti fase kontraksi, menjadi 52,4 pada September 2026, atau kembali ke fase ekspansi. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) triwulan III 2026 juga tercatat 52,28, naik dari 51,43 pada triwulan II 2026 dan 51,66 pada triwulan III 2025.
“Data ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Kami juga optimistis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober akan meningkat dibandingkan September. Artinya, para pelaku industri memiliki keyakinan bahwa kondisi industri akan semakin membaik ke depan,” ujar Sarmuji.
Pasokan Gas dan Momentum Nataru
Sarmuji juga menyoroti pentingnya ketersediaan energi, khususnya gas bumi, bagi keberlanjutan produksi industri. Menurutnya, optimalisasi pasokan gas untuk kebutuhan industri melalui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dapat menjadi pendorong peningkatan kinerja manufaktur.
“Kalau melihat perkembangan datanya, kami optimistis kinerja industri sampai akhir tahun akan terus meningkat. Apalagi jika kebutuhan gas untuk sektor industri dapat terpenuhi, termasuk melalui HGBT, tentu ini akan menjadi dorongan yang sangat baik bagi peningkatan produksi industri,” tuturnya.
Dradjad mengatakan kunjungannya ke Kemenperin merupakan bagian dari koordinasi pemerintah untuk menggali sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, terutama dari sektor industri dan sektor pendukungnya.
“Kami melihat sektor industri maupun sektor-sektor pendukung industri yang diampu Kementerian Perindustrian justru menunjukkan peningkatan dan berada pada fase ekspansif. Kepercayaan pelaku industri juga meningkat, yang berarti mereka semakin optimistis terhadap kondisi ke depan,” ujar Dradjad.
Menurut Dradjad, sejumlah subsektor dan kawasan berpotensi besar untuk terus didorong, antara lain industri makanan dan minuman, industri agro, serta aktivitas industri di kawasan industri dan kawasan berikat. Ia juga menilai peningkatan utilisasi menjadi strategi penting untuk mengakselerasi pertumbuhan manufaktur, terlebih dengan adanya peningkatan permintaan masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Di sektor industri, peningkatan utilisasi dapat menjadi bentuk intensifikasi industri. Dengan memanfaatkan kapasitas produksi yang sudah tersedia, kita memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan industri lebih tinggi, terutama dengan adanya peningkatan permintaan menjelang Nataru,” jelasnya./







































