JAKARTA, Bisnistoday.co.id- Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan telah mengembangkan berbagai cara untuk menghadapi panas, mulai dari menyesuaikan aktivitas sehari-hari hingga mengupayakan adaptasi hunian.
Namun, upaya tersebut masih banyak bergantung pada kemampuan individu dan rumah tangga, sementara akses terhadap hunian yang nyaman, pembiayaan, adaptasi, dan perlindungan kebijakan belum memadai.
Temuan ini mengemuka dalam Dialog Diseminasi Nasional Riset Beyond Housing Types (BeHousing), yang mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, komunitas, dan media untuk membahas adaptasi hunian terhadap panas perkotaan serta masa depan kota yang inklusif.
Di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda Indonesia, keadaan panas perkotaan semakin mengkhawatirkan. Di beberapa tempat seperti Jakarta suhu harian bisa terasa melebihi 40°C pada puncak kemarau panjang yang sedang terjadi di bulan Oktober 2026 ini. Adapun data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa panas kota Jakarta mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Keadaan ini turut diperburuk oleh fenomena penumpukan panas kota (urban heat island) yakni penggunaan bahan-bahan konstruksi di perkotaan seperti beton, aspal, dan kaca yang menyerap panas, kemudian membuat sengatan suhu panas terasa bahkan hingga malam hari. Belum lagi diperparah oleh gedung-gedung pencakar langit yang menghalangi laju angin serta ketiadaan ruang terbuka hijau yang memadai.
Apabila dibiarkan begitu saja, panas dapat berdampak pada aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial yang sangat berbahaya, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang tinggal di pemukiman padat perkotaan; dikarenakan kualitas bangunan yang rendah (tiadanya sirkulasi udara yang memadai serta penggunaan bahan seperti atap seng yang memerangkap panas).
Diana Kusumastuti, Wakil Menteri Pekerjaan Umum menuturkan bahwa riset ini dibutuhkan. Dimana hasil penelitian BeHousing penting sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan yang inklusif dan responsif.
“Sebab urban heat merupakan tantangan pembangunan yang membutuhkan kerjasama multipihak dalam menjamin terwujudnya hunian tangguh dan inklusif di berbagai skala,” tegasnya di Jakarta, baru-baru ini.
Mengenali urgensi dari permasalahan ini, konsorsium BeHousing yang dipimpin oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS), bersama Kota Kita Foundation, Arkom Indonesia, dan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) di Universiti Kebangsaan Malaysia, melakukan diseminasi riset yang mengemukakan kelindan antara tipologi hunian, kondisi sosial-ekonomi, tata kelola, dan kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah untuk beradaptasi terhadap panas perkotaan di 4 lokasi studi di Indonesia (Jakarta, Semarang, Surabaya) dan Malaysia (Selangor).
Panas perkotaan memperlebar ketimpangan dan kerentanan
Benaya Valentino Ginting, peneliti RCUS mengatakan, temuan riset menunjukkan bahwa pengalaman dan dampak panas tidak dirasakan secara merata. Kondisi sosial-ekonomi, karakteristik bangunan, serta keterbatasan sumber daya memengaruhi kemampuan warga untuk mengurangi paparan panas dan memulihkan kondisi tubuh setelah beraktivitas.
“Di lokasi penelitian, karakteristik material bangunan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam memahami kondisi termal hunian. Penggunaan material atap dan dinding, termasuk asbes dan bata, perlu dilihat bersama faktor desain bangunan, ventilasi, paparan matahari, dan kondisi lingkungan sekitar untuk memahami bagaimana panas memengaruhi ruang tinggal,” paparnya.
Dampak panas juga melampaui ketidaknyamanan fisik. Warga turut mengalami hambatan pada aktivitas produktif dan waktu pemulihan, termasuk ketika bekerja dari rumah, memasak, dan beristirahat. Keluhan yang muncul antara lain pusing, sakit kepala, keringat berlebih, batuk, dan sakit tenggorokan, serta dampak terhadap kesejahteraan psikologis. Pada saat yang sama, keterbatasan ekonomi membuat penggunaan pendingin aktif seperti AC menjadi pilihan yang sulit terjangkau.
Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif RCUS menegaskan bahwa dampak panas tidak berhenti ketika angka suhu tidak lagi muncul dalam pemantauan. Bagi pekerja luar ruangan dan warga yang tinggal di kampung kota maupun permukiman padat, panas tetap menjadi bagian dari keseharian.
“Kami berharap riset ini senantiasa membersamai semua warga untuk mewujudkan kota yang adil dan lestari; kota yang tidak memaksa orang untuk memilih antara bekerja di luar atau tetap sehat; kota di mana rumah menjadi tempat kembali untuk berlindung, bukan tempat menyimpan panas. Rumah yang nyaman bagi semua,” tuturnya./







































