www.bisnistoday.co.id
Rabu , 30 September 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Bank Indonesia Lanjutkan “Rally” BI Rate Menjadi 5,75 Persen
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Bank Indonesia Lanjutkan “Rally” BI Rate Menjadi 5,75 Persen

Logo BI
LOGO Bank Indonesia, belum lama ini./ant
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung 17-18 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

Hal tersebut diungkapkan, oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo kepada media di Jakarta, Kamis (18/6).  Menurutnya, kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global.

Selain itu, kenaikan BI Rate juga sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.

Sementara itu, lanjut Perry Warjiyo, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan (“pro-growth”). Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

“Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.”

Upaya Pulihkan Stabilitas

Sementara, dalam riset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyatakan, BI menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 25 bps menjadi 5,75%, menandai kenaikan suku bunga ketiga berturut-turut sebesar 100 bps selama dua bulan terakhir dan menggarisbawahi komitmen kuat bank sentral untuk memulihkan stabilitas eksternal.

“Menurut kami, langkah terbaru ini tetap berfokus pada mendukung apresiasi Rupiah lebih lanjut setelah mata uang pulih di bawah ambang batas Rp18.000/USD, menguat sebesar 0,72% MTD menjadi Rp17.730/USD, meskipun masih turun sekitar 6,5% YTD,”urainya.

Di luar pertimbangan nilai tukar, menurut riset Mirae, BI juga tampak semakin fokus pada risiko inflasi yang muncul, terutama karena tekanan harga produsen terus meningkat. Inflasi grosir (WPI) meningkat menjadi 5,76% YoY pada Mei-26, level tertinggi sejak 23 Februari 2026. Sementara inflasi inti tidak termasuk emas naik menjadi 1,63% YoY dari 1,36% pada 26 April 2026, menunjukkan bahwa efek pass-through mulai muncul.

“Ke depan, risiko inflasi tetap miring ke atas karena kondisi El Nino diperkirakan akan mencapai puncaknya sekitar 26 Agustus 2026 dengan indeks diproyeksikan mencapai 1,6.”/

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kementan
Ekonomi & Bisnis

Ciptakan Petani Naik Kelas, UPT Kementan Kerja Sama dengan BPDP Gelar Pelatihan

PALANGKA RAYA, Bisnistoday.co.id - Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Petani pekebun...

Pantai Batam
HEADLINE NEWS

Investasi Asing : Kunci Batam menjadi “Dubai Kecil” di Sumatera

BATAM, Bisnistoday.co.id- Batam memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi salah satu...

Pameran Kelistrikan
Ekonomi & Bisnis

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Pertemukan Ribuan Peserta dan Ratuan Exhibitor

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 sukses diselenggarakan...

GEDUNG BEI
HEADLINE NEWS

IHSG Terperosok, Tekanan Eksternal dan Rupiah Meningkat

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Tekanan eksternal kembali membayangi pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham...