www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 3 Oktober 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Belanja Akhir Tahun Digenjot Pemerintah, Namun Tekanan Inflasi Mengintai
Ekonomi & Bisnis

Belanja Akhir Tahun Digenjot Pemerintah, Namun Tekanan Inflasi Mengintai

Pusat Perbelanjaan
EKONOMI BERTUMBUH, terlihat suasana pusat perbelanjaan di Jakarta.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday Pemerintah memperkuat sejumlah stimulus konsumsi menjelang tutup tahun sebagai upaya menjaga laju pertumbuhan ekonomi agar tetap berada di jalur target 5,4% pada 2025. Salah satu langkah besar adalah fasilitasi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) dan kerja sama dengan asosiasi ritel untuk menghadirkan diskon terarah serta rangkaian acara “244” selama masa liburan Natal dan Tahun Baru. Kebijakan ini diperkirakan mampu mendongkrak belanja rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama perekonomian Indonesia.

Jessica Tasijawa, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Kamis (27/11), menjelaskan bahwa konsumsi menyumbang lebih dari setengah PDB nasional, sehingga akselerasi belanja masyarakat menjadi kunci untuk mengamankan pertumbuhan kuartal IV. Namun, ia mengingatkan bahwa paket stimulus besar tersebut dapat memperburuk tekanan likuiditas di sistem keuangan dan meningkatkan risiko inflasi. Inflasi headline pada Oktober 2025 telah mencapai 2,9% secara tahunan dan diperkirakan tetap tinggi hingga awal 2026 karena kombinasi faktor musiman dan stimulus besar yang digelontorkan tahun ini.

Di sisi moneter, Bank Indonesia (BI) menjaga fokus pada stabilitas dengan menahan Rupiah tetap stabil di kisaran Rp16.662 per dolar AS. Stabilitas ini turut ditopang oleh penurunan CDS Indonesia tenor 5 tahun ke level 73 serta melemahnya indeks dolar AS (DXY). Meski demikian, pasar obligasi domestik masih tertekan. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke 6,25% akibat arus keluar investor asing, yang saat ini hanya menguasai 13% dari outstanding surat utang negara.

Pemerintah memanfaatkan Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk refinancing sebagai upaya menjaga daya saing imbal hasil obligasi, sehingga spread antara yield UST–INDOGB melebar hingga di atas 220 basis poin. Langkah ini diharapkan mampu menarik kembali aliran modal asing yang mulai menahan diri di tengah ketidakpastian global.

Menurut analis, dinamika akhir tahun ini menunjukkan trade-off yang jelas: dorongan konsumsi akan memperkuat pertumbuhan jangka pendek, namun dibayangi peningkatan risiko inflasi dan tekanan likuiditas yang berpotensi mengganggu stabilitas makro. BI diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan setidaknya sekali pada kuartal I 2026 untuk menjaga momentum ekonomi, dengan catatan tekanan inflasi mulai mereda.

Meski kebijakan stimulus dan stabilisasi berjalan beriringan, kepercayaan investor asing akan kembali secara lebih solid apabila inflasi menurun dan ketidakpastian suku bunga global mereda. Awal 2026 dipandang sebagai periode yang lebih menjanjikan bagi titik temu antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia./

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Ekonomi & Bisnis

Dua Hari Operasi Tanpa Tarif, Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Layani 24 Ribu Kendaraan

PROBOLINGGO, Bisnistoday.co.id - PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi (JPB) mencatat sebanyak 24.914 kendaraan...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

OJK Tetapkan Perlakuan Khusus Kredit Bagi Debitur Terdampak Bencana di NTT

JAKARTA, Bisnistoday - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan perlakuan khusus atas kredit/pembiayaan...

Menteri Perindustrian
Ekonomi & Bisnis

Menperin Sarmuji: Industri Tumpuan Daya Ungkit Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan sektor industri merupakan tumpuan...

Ekonomi & Bisnis

Komitmen Layanan Terbaik Bawa Didimax Raih Peringkat Tertinggi Grade A+++ Bappebti

JAKARTA, Bisnistoday.co.id,- ​PT Didimax Pialang Berjangka mencatatkan prestasi membanggakan pada paruh pertama...