Press "Enter" to skip to content

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, IHSG dan Rupiah Menguat

IHSG dan rupiah menguat seiring kebijakan BI mempertahankan suku bunga acuan
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan 3,5 persen jadi sentimen positif perdagangan saham hari ini, Kamis (20/1). IHSG ditutup menguat 34,89 poin ke posisi 6.626,87, sementara indeks LQ 45 naik 4,73 poin ke posisi 943,34.

Tim riset Ajaid Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, menguatkan mayoritas harga komoditas seperti nikel, timah, kertas, emas, minyak, dan CPO serta optimisme pelaku pasar seiring kebijakan BI mempertahankan suku bunga acuan menjadi katalis positif.

Seperti diketahui bahwa Bank Indonesia kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Januari 2022. Selain itu, suku bunga deposit facility juga dipertahankan sebesar 2,75 persen dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen.

BI menyatakan keputusan itu sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan sistem keuangan, serta upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Dibuka menguat, IHSG terus bergerak di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih nyaman berada di teritori positif sampai penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor terkoreksi dimana sektor transportasi & logistik turun paling dalam yaitu minus 0,83 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor barang konsumen primer masing-masing minus 0,71 persen dan minus 0,38 persen.

Sedangkan tujuh sektor meningkat dimana sektor energi naik paling tinggi yaitu 2,39 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor infrastruktur masing-masing 1,72 persen dan 0,9 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing di seluruh pasar yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing di seluruh pasar sebesar Rp90,27 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat aksi jual asing dengan jumlah jual bersih Rp17,48 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.333.778 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,75 miliar lembar saham senilai Rp12,7 triliun. Sebanyak 288 saham naik, 232 saham menurun, dan 158 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 305,7 poin atau 1,11 persen ke 27.772,93, indeks Hang Seng naik 824,5 poin atau 3,42 persen ke 24.952,35, dan indeks Straits Times meningkat 10,88 atau 0,33 persen ke 3.294,82.

Rupiah Menguat

Sementara itu, nilai tukarrupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 23 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp14.341 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.364 per dolar AS. Penguatan seiring pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral China. Pengamat pasar uang Ariston Tjendra seperti dilansir Antara mengatakan, rupiah dan mata uang kawasan terlihat menguat terhadap dolar AS, serta indeks saham Asia juga ditutup naik.

“Sentimen cukup positif ke aset berisiko hari ini. Mungkin sikap bank sentral China yang melonggarkan kebijakan moneternya untuk mengangkat perekonomian di tengah pandemi membantu sentimen tersebut,” ujar Ariston.

People’s Bank of China (PBoC) memangkas suku bunga Loan Prime Rate atau LPR tenor satu tahun menjadi 3,7 persen dari 3,8 persen dan LPR tenor lima tahun menjadi 4,6 persen dari 4,65 persen.

Secara umum, lanjut Ariston, pelaku pasar masih mewaspadai beberapa risiko yang bisa menekan pemulihan ekonomi seperti tingginya inflasi. Harga komoditas energi yang naik kini juga menyumbang inflasi.

“Selain itu rencana kenaikan suku bunga acuan AS akan mendorong pelaku pasar melakukan reposisi portofolio investasi yang bisa menekan harga aset berisiko,” kata Ariston./

Comments are closed.