www.bisnistoday.co.id
Selasa , 18 Agustus 2026
Home GLOBAL Kawasan Global Di Gaza, Warga bahkan Sulit untuk Sekadar Menyalakan Api
Kawasan Global

Di Gaza, Warga bahkan Sulit untuk Sekadar Menyalakan Api

Satu pemantik api sering kali dipakai bergantian oleh keluarga-keluarga di Gaza

Warga di Gaza kini kesulitan mendapatkan korek api
Hasnaa Mansour mengatakan bahwa ia terkadang tidak menyalakan api selama dua atau tiga hari karena tidak bisa menemukan pemantik api [Abdelhakim Abu Riash/ Al Jazeera]
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Rabab Deifallah duduk di dalam gubuknya. Tangannya yang mulai keriput, menggenggam sebilah korek api yang sudah using. Perempuan brusia 46 thun itu menekannya sekali, lalu sekali lagi, berusaha memercikkan api  untuk menyalakan tumpukan kayu di dalam tungku.

Ibu lima anak ini telah merawat pemantik api tersebut dengan hati-hati. Putranya telah beberapa kali memperbaikinya karena sulitnya membeli yang baru sejak perang genosida Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023.

Kayu bakar telah menjadi kebutuhan pokok bagi Rabab. Ia menggunakannya untuk memanggang roti, memanaskan air bagi anak-anaknya, memasak makanan, dan menyeduh teh di tengah kelangkaan gas elpiji serta melonjaknya harga bahan bakar.

“Seluruh kehidupan sehari-hari kami bergantung pada api,” ujar Rabab kepada Al Jazeera. “Namun, untuk menyalakan api, kita butuh pemantik, dan benda kecil ini telah menjadi salah satu barang yang paling langka di Gaza.”

Langka dan mahal

Sebelum perang, warga mudah membeli korek api. Ia bercerita pernah membeli tiga buah hanya dengan harga satu shekel (0,33 dolar AS). Kini, harga pemantik baru bisa mencapai 27–33 dolar AS, dan Rabab terakhir kali menghabiskan 12 dolar AS untuk memperbaiki pemantik lamanya.

“Haruskah saya menghabiskan uang sebanyak itu untuk sebuah pemantik, atau membeli sekarung tepung?” tanyanya.

Warga Palestina di Gaza lebih memilih menggunakan uang mereka yang terbatas untuk membeli makanan, sehingga satu pemantik api sering kali dipakai bergantian oleh keluarga-keluarga di beberapa tenda.

Ada hari-hari di mana Rabab sama sekali tidak bisa menemukan pemantik api, sehingga keluarganya terpaksa makan makanan dingin selama berhari-hari atau menunggu hingga ada tetangga yang sedang menyalakan api agar bisa berbagi. Ia sering membawa potongan kardus ke gubuk tetangga untuk mengambil api dari tungku mereka dan membawanya pulang.

Di lain waktu, jika ada tetangga yang sedang memanggang roti, ia mungkin meminta izin untuk menggunakan oven mereka guna menyiapkan makanan bagi keluarganya. Korek api itu kini menjadi benda yang ia jaga dengan hati-hati, karena baginya, benda itu adalah sumber awal untuk menghidupi keluarganya.//

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Warga berjalan melewati reruntuhan bangunan yang ambruk setelah gempa bumi di Cali, Kolombia, 10 Agustus 2026. Foto: Ernesto Guzmán Jr/EPA
Kawasan Global

Ratusan Tewas, Ribuan Bangunan Ambruk Akibat Gempa di Kolombia

JAKARTA, Bisnistoday ; Jumlah korban tewas akibat gempa yang terjadi di Kolombia,...

Warga berjalan melewati reruntuhan bangunan yang ambruk setelah gempa bumi di Cali, Kolombia, 10 Agustus 2026. Foto: Ernesto Guzmán Jr/EPA
Kawasan Global

Sedikitnya 20 Orang Tewas Akibat Gempa di Kolombia

JAKARTA, Bisnistoday - Setidaknya 20 orang tewas akibat gempa bumi berkuatan 7,4...

Wamenperin
Kawasan Global

Forum BRICS TMM : Wamenperin Sampaikan Pentingnya Kolaborasi Industri Internasional Ditengah Disrupsi Teknologi

JAKARTA, Bisnistoday - Ketahanan industri global kini tidak lagi ditentukan semata oleh...

Presiden AS Donald J Trump.
EKONOMIKawasan Global

Trump akan Terapkan Tarif Baru pada Lebih dari 80 Negara

JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat akan mengenakan tarif antara 10% atau 12,5%...