www.bisnistoday.co.id
Rabu , 30 September 2026
Home LIFESTYLE Rona & Film Buku Baru Ungkap Pesona Misterius Kakawin Jawa Kuna-Bali: Jejak Tradisi yang Hidup di Lombok
Rona & Film

Buku Baru Ungkap Pesona Misterius Kakawin Jawa Kuna-Bali: Jejak Tradisi yang Hidup di Lombok

Naufal
Naufal Anggito Yudhistira bersama para penari usai pementasan eksperimental reaktualisasi tari Bedhaya Gandrungmanis sebagai rangkaian proses penelitian disertasi untuk program doktoral ilmu susastra FIB UI berlangsung di Gedung Serbaguna Perpustakaan Nasional RI di Jakarta. (lasman)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Dunia kesusastraan Jawa Kuna-Bali kembali mendapat angin segar melalui terbitnya buku “Suntingan Teks Kakawin Lambang Pralambang” karya peneliti muda, Naufal Anggito Yudhistira. Buku yang dirilis Perpusnas Press tahun 2023 ini menghadirkan kembali salah satu teks bhāṣa kuno yang selama ini hanya tersimpan dalam lontar berkeropak koleksi Universitas Indonesia.

Bukan sekadar suntingan teks, buku ini sekaligus membuka kembali pintu menuju jejak tradisi sastra yang ternyata masih hidup di luar Jawa di Lombok, sebuah fakta yang jarang diketahui publik.

Jejak Sastra dari Lontar Usang

Teks Kakawin Lambang Pralambang yang menjadi fokus penelitian Naufal berasal dari naskah lontar kode LT 223, satu-satunya naskah yang menyimpan teks tersebut. Lontar berukuran 3,5 x 49,3 cm ini tampak renta: permukaannya kecokelatan, beberapa bagian gripis, namun guratan aksara Bali yang meliuk-tegak masih tampak kuat menyimpan kisah masa lalu.

Yang menarik, lontar ini ditulis di Pulau Lombok, menandakan luasnya penyebaran tradisi sastra Jawa Kuna-Bali hingga melampaui pusat kerajaan di Jawa dan Bali.

“Lontar ini memperlihatkan keberlanjutan tradisi sastra Jawa Kuna-Bali di Lombok,” ujar Naufal dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (4/12).

Bhāṣa: Puisi Liris Penuh Teka-Teki

Kakawin Lambang Pralambang sendiri merupakan karya sastra ber-genre bhāṣa, bentuk puisi liris yang mulai dikenal pada akhir masa Majapahit dan mencapai perkembangan lebih pesat di Bali.

Ciri khas bhāṣa adalah ungkapan puitisnya yang romantis-erotis, penuh simbol, dan sarat perlambang. Dalam Lambang Pralambang, unsur yang paling memikat adalah kehadiran cacangkriman semacam teka-teki atau ungkapan misterius yang menyimpan pesan moral hingga religius.

“Cacangkriman itu tidak hanya teka-teki, tapi lapisan simbol yang mengundang pembaca masuk lebih dalam,” jelas Naufal.

Teks ini terdiri atas berbagai bab seperti Bhāṣa Rudita, Bhāṣa Wiwaha Cacangkriman, hingga Palambang Dharmma Kusala Mahātma Cinaṇḍya, masing-masing memuat lirik-lirik yang memadukan estetika bahasa dengan nilai spiritual.

Dari Tugas Akhir Menjadi Buku Rujukan

Yang membuat karya ini menarik bukan hanya isinya, tetapi juga perjalanan penulisnya. Naufal, lulusan Sastra Jawa UI yang kini melanjutkan studi doktoral di FIB UI, awalnya menulis penelitian ini sebagai tugas akhir S1. Dengan pendalaman filologi, ia menyajikan teks dalam bentuk edisi kritis, disertai terjemahan bebas agar pembaca lebih mudah menangkap maknanya.

Ia sebelumnya telah menerbitkan dua buku: Serat Panji Pudhak Lelana (2021) dan Di Balik Makna 99 Desain Batik.

Tak hanya bergelut dengan naskah, Naufal juga aktif mencipta karya tari seperti “Sedulur Papat” (2018) dan “Fragmen Rara Mendut–Pranacitra” (2019). Pada Oktober 2025, ia bahkan menggelar pementasan eksperimental Langen Mataya Bedhayan Gandrungmanis di Perpustakaan Nasional RI sebagai bagian dari proses riset disertasinya.

Menjaga Warisan yang Hampir Hilang

Keberadaan Kakawin Lambang Pralambang menjadi pengingat bahwa tradisi sastra kita tak berhenti hanya pada nama-nama besar seperti Nagarakretagama atau Arjunawiwaha. Di balik lembar-lembar lontar yang rapuh, terdapat tradisi minor yang kaya, beranjak dari masa silam, melintasi Bali hingga Lombok, dan kini dihidupkan kembali melalui filologi modern.

Buku ini hadir bukan hanya sebagai karya ilmiah, tetapi sebagai upaya melestarikan warisan peradaban. Di era digital yang serba cepat, menghidupkan kembali sastra klasik menjadi tantangan tersendiri—dan Naufal termasuk sedikit orang muda yang dengan tekun mengerjakannya.

“Terjemahan dan suntingan ini untuk memudahkan pembaca memahami isi kakawin. Sastra klasik perlu dihidupkan, bukan disimpan sebagai artefak,” pungkasnya.//

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rona & Film

TACO Berkolaborasi Untuk Film Filosofi Teras 

JAKARTA, Bisnistoday - Sebagai bagian dari upaya memperluas eksplorasi material ke industri...

Rona & Film

Film Semua Akan Baik-Baik Saja Masuk 8 Nominasi IFFA Awards 2026 di Australia

JAKARTA, Bisnistoday,- Kabar membanggakan datang dari industri perfilman Indonesia. Film garapan Baim...

Film The Odyssey karyaChristopher Nolan. (dok: IMDb)
Rona & Film

The Odyssey dan Spider-Man Pecahkan Rekor Box Office

JAKARTA, Bisnistoday: The Odyssey dan Spider-Man: Brand New Day mencetak sejarah sebagai...

CapCut AI Contest 2026 (dok:Ist)
Rona & Film

CapCut Gelar AI Content Fest 2026, Bawa Talenta Kreatif Naik ke Layar Lebar

JAKARTA, Bisnistoday - CapCut solusi penyuntingan video terpadu, hari ini (Jumat, 11...