JAKARTA, Bisnistoday – Indonesia memiliki tantangan besar untuk menuju Indonesia Emas 2045 mendatang. Untuk naik menjadi ekonomi maju dalam dengan waktu tersisa 20 tahun mendatang rasanya tidak bisa diraih tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
“Kunci keberhasilan Indonesia mencapai Indonesia emas 2045, lepas dari middle income trap dan menjadi ekonomi 5 terbesar, adalah sektor industri,” ungkap Eisha Maghfiruha Rachbini, Ph.D, Ekonom Indef di Jakarta, dalam dialog Perempuan, baru-baru ini.
“Jika kelehaman-kelemahan tersebut, tidak dibenahi, maka jangan harap tujuan itu bisa tercapai. Apa yang dilakukan Presiden terus dilakukan, dengan industri dan hilirisasi yang menguntungkan Indonesia,” tuturnya.
Ia mengutarakan, Indonesia emas tahun 2045 tidak lama lagi, hanya sekitar 20 tahun. Tetapi untuk mencapai itu, seperti diprediksi banyak lembaga internasional, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
“Tetapi beberapa tahun lalu kita sempat dilanda oleh pandemi denga akibat pertumbuhan ekonomi negatif. Ini harus dikejar supaya mmenuhi pertumbuhan ekonomi tinggi,” terangnya.
Menurutnya, lembaga-lembaga internsional sudah banyak memperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu dari lima negara yang besar di dunia. Pada saat itu level income per kapita se level dengan negara maju sekitar 20.000 – 30.000 dollar per kapita secara tahunan.
“Itu berarti kita mesti keluar dari jebakan middle income Trap, jebakan negara berpendapatan menengah.”
Bertumbuh Tapi Lambat
Indonesia sudah memperlihatkan kondisi yang lebih baik, GNI per kapita yaitu 4.580 dollar per kapita. Ini menjadikan Indonesia masuk ke kelompok upper middle income countries. Ada peningkatan tetapi Indonesia di Asean posisinya masih di bawah Thailand dan Malaysia (sudah mencapai 11 ribu dollar per kapita).
Tetapi kita lihat penatang bau Vietnam, dulu jauh di belakang kita tetapi sekarang level GNI per kapita sudah hampir mendekati Indonesia di 4.010 dollar per kapita.
Jadi ada percepatan akselerasi petmbuhan GNI Vietnam. Sementara itu, kita Indonesia peningkatannya sejak 2011 pertumbuhan GNI melandai. Jika ini terjadi maka harapan untuk lepas dari middle income trap bisa tidak terwujud.
“Kalau kita lihat sejarah Transformasi dari pertumbuhan ekonomi dari tahun 60-an memang lebih di dorong oleh komoditas. Pada tahun akhir 80-an kemudian juga kita merasakan kenaikan harga komoditas oil boom.”
Nah, lanjut Eisha, saat periode 2005 – 2019 dan sekarang pun setelah pandemi masih diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas, yang sempat dirasakan kemarin mendorong ekspor naik pesat.
“Sebenarnya dalam jangka panjang, kita butuh pertumbuhan ekonomi, yang tidak hanya di didorong oleh komoditas mentah dan untuk karena volatilitas harga di pasar global. Kita butuh pertumbuhan yang lebih berkelanjutan, tumbuh dengan basis yang kuat dari sektor manufaktur yang matang dan mendalam,” tuturnya.
Industri Manufaktur Kunci Pertumbuhan
Eisha menerangkan, sektor manufaktur harus terus menerus dibenahi dan diperbaiki sebab, sektor manufaktur terjadi penurunan kontribusi dari nilai tambah atau kontribusi manufaktur terhadap PDB, yang sudah terjadi sejak tahun 2000-an.
“Proporsi dari output dimanufaktur terhadap total PDB sekarang hanya 19 persen dimana sebelumnya mencapai 30 persen.”
Demikian juga, lanjut Eisaha, .sektor manufaktur sangat menentukan, berkorelasi sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menurun. Korelasinya kelihatan sangat kuat, ketika pertumbuhan industri turun, maka PDB-nya turun.
“Mengapa Vietnam menyalip Indonesia tidak lain karena sektor industrinya tumbuh lebih cepat dari sektor industri Indonesia, yang terus melemah sejak tahun 2000-an.”
Peranan sektor manufaktur di vietnam sudah menyalip Indonesia, yakni 86 persen dari total ekspornya. Sedangkan Indonesia peranan sektor manufaktur begitu lemah hanya sekitar 45 persen. Jadi penekanan presiden terhadap huilirisasi sangat penting ke depan.
“Kalau kita lihat perbandingan dengan negara-negara tetangga yang lain, seperti Thailand kontribusi sektor manufaktur lebih tinggi. Jadi kontribusi manufaktur ini sangat besar terhadap perekonomian Thailand.”
Sementara, tambah Eisha, di Malaysia manufaktur sangat dominan dan peran ekspor dari sektor manufaktur kontribusinya mencapai 93 persen dari toal ekspor. “Jadi Negara tetangga kita Malaysia tidak lagi mengeskpor bahan mentah yang rendah nilainya.”/








































