BANDUNG, Bisnistoday – Memasuki usia tiga tahun, Grey Art Gallery menegaskan perannya sebagai penggerak ekosistem seni rupa kontemporer Bandung melalui inovasi ruang dan program yang semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu terobosannya adalah peluncuran GREY Hair and Nail Artistry, konsep pertama di Indonesia yang memadukan salon kecantikan dengan galeri seni.
Berlokasi di Jl. Cilaki No. 28, Cihapit, Bandung, GREY Hair and Nail Artistry menghadirkan pengalaman unik di mana pengunjung dapat menikmati layanan rambut dan nail artistry sambil berinteraksi langsung dengan karya seni yang dipamerkan di ruang salon.
Konsep ini membuka cara baru dalam mengapresiasi seni, tidak lagi eksklusif di ruang galeri, tetapi hadir sebagai bagian dari gaya hidup.
GREY Hair and Nail Artistry merupakan bagian dari ekosistem GREY yang digagas oleh Grace Christianti, Elia Yoesman, dan Jennifer Sugianto, dengan visi menghadirkan seni sebagai pengalaman yang dekat dan relevan dengan keseharian.
“Kami ingin menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari cara kita menjalani hari. Di ruang ini, karya hadir di tengah aktivitas sehari-hari sebagai inspirasi dan momen refleksi,” ujar Grace Christianti, Owner sekaligus Founder GREY Hair and Nail Artistry, Jumat (6/2/2026).
Pada tahun pertamanya, GREY Hair and Nail Artistry menampilkan karya-karya dengan pendekatan monokrom hitam putih, menciptakan suasana visual yang tenang dan reflektif.
Karya seni tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga bagian dari pengalaman emosional pengunjung. Seluruh karya yang ditampilkan juga tersedia untuk dijual, sebagai bentuk dukungan terhadap praktik dan distribusi karya seniman.
Peluncuran GREY Hair and Nail Artistry sejalan dengan penguatan ekosistem GREY secara keseluruhan.
Salah satunya melalui kehadiran GREY CUBE, ruang kuratorial baru di Jl. Dago No. 169 Lantai 3, Bandung, yang berfungsi memperkuat sirkulasi dan apresiasi karya seni dalam ekosistem GREY.
Dalam edisi perdananya, GREY CUBE menampilkan karya dari Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius.
Komitmen GREY terhadap pengembangan seni rupa juga berlanjut melalui Grey Award 2026, yang memasuki edisi ke-2 dengan tema “Monochrome as Manifesto.”
Dari 931 karya yang dikirimkan oleh 710 seniman dari berbagai daerah di Indonesia, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipamerkan, sebelum disaring menjadi 10 finalis dan 3 penerima Grey Award 2026.
Melalui integrasi ruang, program, dan gaya hidup, GREY terus memperluas batas antara seni dan keseharian, sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekosistem seni rupa dan ekonomi kreatif di Indonesia. ( E2-Dini)



