www.bisnistoday.co.id
Selasa , 21 April 2026
Home BURSA & KORPORASI IHSG dan Rupiah Melemah
BURSA & KORPORASI

IHSG dan Rupiah Melemah

IHSG ditutup turun tajam
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (8/7) ditutup melemah 4,14 poin ke posisi 6.039,9. Sementara indeks LQ45 turun 1,94 poin ke posisi 839,92.

Dibuka menguat, IHSG hanya mampu bergerak positif pada sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, IHSG melemah dan terus bertahan di zona merah hingga penutupan bursa saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor meningkat dimana sektor properti naik paling tinggi yaitu 0,84 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor teknologi masing-masing 0,48 persen dan 0,38 persen.

Sedangkan delapan sektor terkoreksi dimana sektor barang konsumen primer turun paling dalam yaitu minus 0,98 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor perindustrian masing-masing minus 0,93 persen dan minus 0,67 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” sebesar Rp132,14 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.300.315 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,23 miliar lembar saham senilai Rp11,8 triliun. Sebanyak 194 saham naik, 288 saham menurun, dan 159 tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 248,92 poin atau 0,88 persen ke 28.118,03, indeks Hang Seng turun 807,49 poin atau 2,89 persen ke 27.153,13, dan indeks Straits Times terkoreksi 34,01 poin atau 1,08 persen ke 3.107,59.

Rupiah Melemah

Sementara nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah seiring berlanjutnya eskalasi kasus baru Covid-19 di Tanah Air.

Rupiah ditutup melemah 42 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp14.525 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.483 per dolar AS.

Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Nikolas Prasetia di Jakarta, Kamis, mengatakan, pelemahan rupiah masih didorong sentimen dari domestik.

“Masih terkait PPKM dan kenaikan kasus Covid-19 yang tembus 30 ribu kasus dalam satu hari,” ujar Nikolas.

Menurut Nikolas, dengan kenaikan kasus COVID-19 yang masih terus berlanjut, diprediksi pelemahan rupiah masih cukup rentan berkembang.

“Sementara dari USD, meski rilis notulen rapat gagal menghibur pelaku pasar, nampaknya masih terserap sebagai isu positif di AS,” kata Nikolas.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 92,473. Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,265 persen.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.495 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.495 per dolar AS hingga Rp14.549 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp14.548 dibandingkan posisi pada hari sebelumnya Rp14.500 per dolar AS./

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Beritasatu Network

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Related Articles

Panama City (dok: Unsplash/Sol Cerrud)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisGLOBALKawasan Global

Para Konglomerat Sembunyikan Pajak Senilai 3% dari PDB Global

JAKARTA-Bisnistoday: Lembaga nirlaba internasional, Oxfam mengungkapkan orang-orang superkaya di dunia diduga menyembunyikan...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Luncurkan Logo Baru dan Identitas Visual Perusahan

JAKARTA, Bisnistoday – PT Asuransi BRI Life mengumumkan perubahan logo perusahaan sebagai...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Catat Pertumbuhan Signifikan, Raih Laba Rp954 Miliar

JAKARTA, Bisnistoday - PT Asuransi BRI Life membukukan pertumbuhan bisnis yang signifikan...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Kembali Meraih Penghargaan “Indonesia Best Digital Innovation Award 2025”

JAKARTA, Bisnistoday – BRI Life meraih penghargaan Indonesia Best Digital Innovation 2025...