JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (31/1) ditutup menguat 40,95 poin ke posisi 7.137,09 poin. Sementara indeks LQ45 naik 8,30 poin ke posisi 951,49.
Pada awal perdagangan sesi pertama, IHSG langsung menguat dan terus bergerak di teritori positif hingga penutupan perdagangan sesi kedua.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat yaitu dipimpin sektor barang konsumen non prime yang meningkat sebesar 0,82 persen, diikuti sektor infrastruktur dan sektor teknologi yang masing-masing meningkat sebesar 0,73 persen dan 0,44 persen.
Sedangkan lima sektor turun yaitu sektor barang baku turun paling dalam minus sebesar 0,23 persen, diikuti sektor industri dan sektor transportasi & logistik yang masing-masing turun sebesar 0,13 persen dan 0,10 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SRAJ, RSCH, PMMP, PSAB, dan NICL. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni PTMP, MPXL, MSKY, CGAS dan NICE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.134.777 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,87 miliar lembar saham senilai Rp11,60 triliun. Sebanyak 257 saham naik, 257 saham menurun, dan 251 tidak bergerak nilainya.
Bursa Regional Asia
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (31/01) menyebut, para pelaku pasar saat ini cenderung wait and see menantikan keputusan tingkat suku bunga The Fed yang akan dirilis pada Kamis dini hari.
Kontrak berjangka (futures) Federal Funds Rate (FFR) mempertimbangkan 98 persen peluang The Fed akan mempertahankan suku bunga di posisi 5,25-5,5 persen.
Baca juga: Pemberian Insentif Fiskal Kepada Sektor Pariwisata Disambut Positif, IHSG Menguat
Saat ini proyeksi penurunan suku bunga acuan yang akan terjadi pada Maret 2024 atau Mei 2024, menjadi subjek perdebatan hangat di kalangan investor.
Di sisi lain, kemarin IMF merilis World Economic Outlook yang memberikan prospek inflasi mulai stabil dan “soft landing” di depan mata.
GDP China yang awalnya diproyeksikan IMF sebesar 4,1 persen berubah menjadi 4,6 persen, serta GDP Amerika Serikat (AS) yang awalnya diproyeksikan IMF sebesar 1,5 persen berubah menjadi 2,1 persen.
Namun demikian, sentimen negatif juga datang dari China, hari ini Badan Statistika China merilis PMI Manufacturing Januari 2024 yang naik menjadi 49,2 atau lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 49.
Meskipun naik, angka ini masih kurang memuaskan karena masih berada di bawah 50 yang artinya tetap berada di zona kontraksi.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 220,80 poin atau 0,61 persen ke 36.286,69, indeks Hang Seng melemah 218,38 poin atau 1,39 persen ke 15.485,07, indeks Shanghai melemah 41,98 poin atau 1,48 persen ke 2.788,55, dan indeks Strait Times menguat 4,58 poin atau 0,15 persen ke 3.154,62./








































