JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (2/12) ditutup menguat76,14 poin ke posisi 6.583,82, sementara indeks LQ45 naik 17,94 poin ke posisi 949,49.
“Menguatnya IHSG tampaknya dipengaruhi fenomena aksi window dressing,” tulis Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta, Kamis (2/12).
Window dressing adalah strategi yang dilakukan oleh manajer investasi maupun perusahaan terbuka untuk mempercantik portofolio atau performa laporan keuangan sebelum ditampilkan kepada para pemegang saham.
Dibuka menguat, IHSG sempat melemah sekitar satu jam lalu kembali ke zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah berada di teritori positif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor meningkat dimana sektor perindustrian naik paling tinggi yaitu 3,19 persen, diikuti sektor energi dan sektor keuangan masing-masing 2,27 persen dan 1,08 persen.
Sedangkan tiga sektor terkoreksi dimana sektor properti & real estat turun paling dalam yaitu minus 0,46 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor teknologi masing-masing minus 0,14 persen dan minus 0,02 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” di seluruh pasar sebesar Rp77,16 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.265.592 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 26,38 miliar lembar saham senilai Rp13,14 triliun. Sebanyak 291 saham naik, 231 saham menurun, dan 139 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 182,23 poin atau 0,65 persen ke 27.753,37, indeks Hang Seng naik 130,01 poin atau 0,55 persen ke 23.788,93, dan indeks Straits Times terkoreksi 8,45 atau 0,27 persen ke 3.089,8.
Rupiah Melemah
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 51 poin atau 0,36 persen ke posisi Rp14.398 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.347 per dolar AS.
“Sentimen hari ini yaitu ada kekhawatiran terhadap varian Omicron yang sampai saat ini belum diketahui seberapa parahnya penyebaran tersebut, namun untungnya Indonesia masih belum ditemukan varian tersebut,” kata analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Nikolas Prasetia seperti dilansir Antara.
Selain itu, lanjut Nikolas, pelemahan rupiah disebabkan oleh harapan perubahan arah kebijakan moneter bank sentral AS oleh Gubernur The Fed Jerome Powell yang bisa saja lebih cepat dari perkiraan.
The Fed diperkirakan akan segera mengakhiri program pembelian obligasi sehingga bisa mulai melakukan perubahan tingkat suku bunga.
“Isu ini terlihat yang menjadi sentimen utama dan membuat nilai rupiah melemah terhadap dolar AS,” ujar Nikolas./

















![Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/10/Pelajar-prancis-680x533.jpg)























