JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Tekanan eksternal kembali membayangi pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam pada perdagangan Senin, sementara nilai tukar rupiah terus melemah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
IHSG tercatat turun 1,51 persen ke level 6.148 pada perdagangan Senin (28/9), kemarin. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks, di antaranya GOTO, AMMN, BRMS, BMRI, dan MDKA.
Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan tekanan jual investor asing masih berlanjut di pasar saham domestik. Foreign net sell di pasar reguler tercatat sekitar Rp260 miliar, meskipun angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi Jumat sebelumnya yang mencapai sekitar Rp440 miliar.
“Selling” terutama terkonsentrasi pada saham BMRI dengan nilai sekitar Rp242 miliar dan TLKM sekitar Rp122 miliar. Di sisi lain, BBRI dan BBCA justru berbalik mencatatkan net buy.
Tekanan Global Semakin Terasa
Tekanan terhadap pasar domestik tidak terlepas dari perkembangan pasar global. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau UST10Y berada di sekitar 5,23 persen, sementara rupiah melemah hingga Rp17.978 per dolar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih cukup kuat, terutama terhadap nilai tukar dan arus dana asing di pasar saham.Namun, pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik. Yield SBN 10 tahun masih berada di sekitar 7,139 persen, sehingga spread terhadap UST10Y menyempit menjadi sekitar 191 basis poin.
Menurut Rully, perbedaan respons antara pasar saham, rupiah, dan SBN memperlihatkan bahwa penyerapan domestik terhadap SBN masih relatif kuat. Tekanan eksternal sejauh ini lebih terlihat pada pelemahan rupiah dan arus keluar dana asing dari pasar saham.
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data September payrolls Amerika Serikat. Data tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, termasuk proyeksi terminal Fed rate sebesar 4,25 persen.
AS-China Mulai Menurunkan Eskalasi Tarif
Di tengah tekanan pasar, terdapat perkembangan positif dari sisi perdagangan global. Analis Fixed Income PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan Amerika Serikat dan China berencana menurunkan tarif atas barang senilai sekitar USD30 miliar dari masing-masing negara.
Meski demikian, waktu implementasi maupun besaran penurunan tarif masih belum jelas. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk de-eskalasi perdagangan yang masih terbatas. Penurunan tarif berpotensi membantu perdagangan bilateral kedua negara sekaligus meredakan sebagian tekanan harga konsumen di Amerika Serikat.Namun, dampaknya terhadap perdagangan dan inflasi global dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas.
Kebijakan Pajak Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati perkembangan RUU APBN 2027, khususnya mekanisme audit khusus yang lebih eksplisit terhadap restitusi pajak.Ketentuan tersebut memperkuat kewenangan Kementerian Keuangan dalam melakukan verifikasi pengajuan restitusi sebagai bagian dari upaya optimalisasi penerimaan negara.
Kebijakan itu berpotensi mendukung penerimaan pajak neto dalam jangka pendek. Namun, proses verifikasi yang lebih ketat juga berpotensi memperlambat pencairan restitusi dan memberikan tekanan terhadap arus kas perusahaan. Karena itu, implementasi kebijakan tersebut perlu dijaga agar tidak menimbulkan penumpukan kewajiban restitusi pajak pemerintah yang lebih besar.
Investasi Swasta Jadi Kunci Pertumbuhan
Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 dapat meningkat ke kisaran 5,2–6,0 persen.Penguatan investasi diperkirakan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan. Pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) diproyeksikan mencapai 6,3–7,1 persen.
Namun, tantangannya adalah investasi saat ini masih banyak ditopang oleh proyek yang berkaitan dengan pemerintah. Karena itu, peningkatan investasi sektor swasta dan peran Danantara dinilai penting untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi di luar dukungan fiskal pemerintah./










































